020. METASCIENCE DERAJAT MANUSIA

Pangkat, Jabatan dan Kedudukan adalah imingan yang sangat menarik hati manusia. Ketiga imingan itu dapat anda kejar, atau, seketika anda diberi tatkala famili anda mencapai pangkat, jabatan dan kedudukan yang tinggi. Misalnya, anda tiba-tiba jadi menteri, karena presiden baru kebetulan kenalan anda.

Derajat manusia yang akan kita bahas, adalah derajat manusia secara universal, yang bisa dikejar sendiri oleh individu, dan tidak bisa diberikan oleh individu lainnya. Misalnya Hilal Achmar,  Jendral Bintang Lima, Jabatan Panglima, Kedudukan dekat dengan Raja, dapat dianugerahkan Raja kepada Saya. Tetapi raja tidak dapat menganugerahkan saya : Hilal Achmar, Manusia Berderajat Tinggi!

Yang saya ingin katakan adalah, Derajat manusia, tidak dapat diberikan oleh individu, atau kelompok individu. Kita definisikan, mudahnya saja: Ketinggian Derajat Manusia, dianugerahkan oleh Tuhan.

Setelah beberapa posting, jelaslah, apa yang saya bahas adalah ilmu yang bertradisi Timur. Saya tidak antipati dengan ilmu yang berasal dari tradisi barat. Ilmu yang bertradisi timur, menurut saya, ilmu yang mengakui Tuhan Sebagai Sumber dari Segala Sumber, termasuk Ilmu Pengetahuan. Saya buktikan secara sangat sederhana: segala tindak anda dalam kehidupan anda sebagai orang timur, selalu terkait dengan Tuhan. Misalnya saja dalam facebook, GBU, Salam, sering ikut dalam status yang di upload. Dan contoh lainnya, seperti makan dan menjelang tidur, kita selalu ingat Tuhan, sebagai orang Timur.

Derajat yang tinggi, yang diakui secara universal, baik di negeri barat atau timur, dapat dicapai dengan banyak cara, dan tingkahlaku yang juga diakui secara universal. Saya akan memberikan satu dari banyak cara mencapai derajat yang tinggi.

JEDA

Jeda artinya berhenti sejenak. Coffee Break itu artinya berhenti sejenak dari kegiatan yang beruntun dalam satu hari. Contoh jeda, anda dengan santai duduk nyaman, sambil menikmati minuman dan penganan ringan. Boleh di Cafe, boleh di teras atau beranda rumah anda. Kemudian tanyakan pada diri anda sendiri pertanyaan berkualitas (rendah) ini. Anda mungkin punya pertanyaan yang berkualitas sangat tinggi.

1. Sesibuk apakah saya, sehingga tidak dapat jeda?. 2. Sarapan, lunch, semua nikmat. Apakah saya telah berterima kasih pada Tuhan hari ini?. 3. Apakah hari ini, atau tahun ini, saya telah banyak berguna untuk orang lain? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Yang saya ingin katakan adalah: Bukan kerja smart, bahkan ditambah lagi dengan kerja keras dalam mengejar pangkat, jabatan, dan kedudukan yang menyebabkan anda berderajat tinggi…..

Justru, Dengan Jedalah, Yang Kelihatannya Santai, Anda Berkesempatan Mencapai Derajat Yang Tinggi.

Selamat Jeda. Salam. Hilal Achmar.

 



 

Advertisements

XIX. METASCIENCE: SUMBER PENGETAHUAN

Sumber pengetahuan Metascience berasal dari: 1. pancaindera jasmani, 2. berita yang benar, 3. pancaindera ruhani, 4. logika, 5. akalnalar, 6. intuisi, 7. Mimpi yang benar, dan 8. wahyu. Baiklah akan kita bahas satu persatu. Saya memberikan terminologi baru tentang klasifikasi intuisi, saya juga menambahkan terminologi mimpi yang benar sebagai sumber pengetahuan. Sebelum ini, science dengan tradisi barat tidak pernah menambahkan mimpi sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Kalau pada era 2.000-an anda memotret, kamera anda berisi film celluloid didalamnya.  Sekarang, anda memotret dengan kamera digital, yang tidak ada lagi film celluloid didalam kamera anda. Kalau pada era 2000-an, ada tulisan mengenai kamera digital tanpa film, apakah kira-kira anda percaya begitu saja? Ternyata ada dua kebenaran dalam memotret, ialah dengan film celluloid dan dengan digital equipment! Yang saya akan katakan adalah, ada dua (jika anda sudah punya satu) kebenaran dalam global science, baik itu science maupun metascience. Kemudian, ada 2, atau 3, atau berapapun kebenaran dalam metascience. Banyak kebenaran itulah yang akan kita rujuk, untuk menjadi kebenaran yang kita yakini, hasil proses akalnalar, yang pastibenarnya. Yang saya ingin katakan adalah, saya akan buktikan jika anda berkenan, bahwa mimpi juga dapat sebagai sumber pengetahuan, seperti kamera digital sebagai sumber hasil foto anda. Mari kita kembali ke bahasan awal. No.1 sampai 3, tidak akan saya bahas, jika anda tidak menginginkan.

1. Pancaindera Jasmani: Perasa (Lidah), Pelihat (mata), Pembau (Hidung), Peraba (Kulit) dan Pendengar (Telinga). Pancaindera Jasmani, belum dapat dipercaya dalam menilai hasil explorasinya. Kalau anda melihat seseorang mengayuh sepeda tua, atau mengendarai mobil mewah, apakah ‘pasti’, pengayuh sepedan tua lebih miskin dari pengendara mobil mewah? Pancaindera Jasmani, tidak bisa memperoleh ‘kebenaran yang pastibenarnya’ dari info yang diinputnya. Informasi harus diolah lagi.

2. Berita Yang Benar yang berasal dari: a. Otoritas Absolut. b. Otoritas Kitab Suci. c. Otoritas Pembawa Agama. d. Otoritas yang berkompeten terpercaya. e. Konsensus Ilmuwan. f. Berita yang disaksikan banyak orang.

3. Pancaindera Ruhani: Estimasi, representasi, imajinasi, rekoleksi, retensi, dan bersitan/lintasan hati.

4. Logika: Logika, sifat inherent normanya adalah netral. Logika tidak dipengaruhi oleh norma moral, agama, hukum, dan segala norma apapun yang ada pada diri anda. 1+1=2, hasilnya dua tersebut adalah bebas dari segala norma. Ketika saya masih kuliah dahulu, ada sebuah diskusi yang salah satu themanya tentang: lebih tinggi manakah kedudukan antara logika dan intuisi sebagai sumber pengetahuan?. Semua yang hadir menjawab intuisi. Saya sendiri yang menjawab lebih tinggi logika! Kesimpulan diskusi adalah: Intuisi lebih tinggi dari logika! Saat itu mereka kira-kira,  mengambil referensi dari pengalaman spiritual Einstein, bahwa intuisilah yang menuntun Einstein menemukan teori relativitasnya yang cemerlang. Saya mengerti kisah itu, tetapi saya tetap mengatakan, bahwa logika lebih tinggi. Sampai sekarang, di universitas di Indonesia masih mengajarkan bahwa, intuisi lebih tinggi dari logika. Karena themanya adalah: lebih tinggi manakah kedudukan antara logika dan intuisi, saya jawab logika. Itu jawaban yang saya tahu akan ditolak, walaupun saya memberi paparan. Pada saat diskusi itu terjadi pada era 80-an, saya mengetahui, bahwa: Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi, diantara logika dan intuisi. Keduanya berkedudukan sama sebagai ilmu pengetahuan. Dan yang lebih penting bagi kesadaran saya adalah:

Kadangkala logika mengungguli intuisi, kadangkala intuisi mengungguli logika, dalam mencapai kebenaran yang pastibenarnya.

5. Akalnalar: Manusia yang telah teraktualitas, menggunakan akalnalarnya untuk mencapai kebenaran yang pastibenarnya. Kebenaran yang pastibenarnya ini didapatkan dari olahfikir akalbudi-akalnalar, yang dipanjatkan semata untuk mencari kebenaran yang pastibenarnya, bukan kebenaran yang mungkinbenarnya. Kebenaran yang mungkinbenarnya, tidak berdayaguna mengembangkan dan meningkatkan kapasitas manusia secara general, dalam mendaki kualitas tertinggi kemanusiaannya. Baiknya sekarang saya akan memberikan ilustrasi sederhana:

Namanya XX. Seorang yang belum bekerja dan belum berpenghasilan, setelah ‘melihat & mendengar’ banyak kunci apa saja yang hilang, ‘menyadari’, bahwa ia ‘mungkin’ dapat memecahkan masalah ekonominya dengan menjadi ahli duplikat kunci. Setelah belajar dan membeli peralatan, ia kemudian membuka satu kios dan sukses membuka beberapa kios lainnya di lain tempat. Masalah ekonomi XX selesai, ia tangguh, sulit disaingi. XX menggunakan logika dan akalnalar untuk memecahkan masalah ekonominya.

Namanya YY. Seorang yang belum bekerja dan belum berpenghasilan, setelah ‘melihat & mendengar’ banyak kunci apa saja yang hilang, ‘menyadari’, bahwa ia ‘mungkin’ dapat memecahkan masalah ekonominya dengan membuat duplikat kunci, untuk mencuri. Setelah menduplikat kunci rumah orang, ia sukses juga membobol beberapa rumah orang. Masalah ekonominya selesai, ia licin, sulit ditangkap. YY hanya menggunakan logika  untuk memecahkan masalah ekonominya. Ilustrasi ini telah umum diketahui, tetapi harap dicatat, ini bukan pendapat saya. Pendapat saya, adalah pendapat baru, yang tidak umum diketahui: YY juga telah menggunakan akalnalarnya! Saya akan buktikan dibawah ini, dalam pembahasan tentang intuisi.

6. Intuisi: Saya akan membahas terminologi baru tentang klasifikasi intuisi. Intuisilah yang bekerja, sehingga XX dan YY ‘menyadari’, bahwa mereka dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan ekonominya, dengan tindakan yang berhubungan dengan kunci. Setelah menggunakan logika, XX menemukan dua kebenaran: menjadi pencuri atau bekerja sebagai ahli duplikat kunci. Dengan menggunakan akalbudi-akalnalarnya, akalnalarnya dipanjatkan melintasi ruang-waktu, yang kemudian memantapkan pilihannya untuk bekerja sebagai ahli kunci, daripada ahli mencuri. Ini adalah contoh intuisi yang pastibenarnya, yang dalam mencarinya, akalnalarnya tidak teresonansi dengan ‘kebenaran yang pasti salahnya’.

Setelah menggunakan logika, YY menemukan dua kebenaran: menjadi pencuri atau bekerja sebagai ahli duplikat kunci. Dengan menggunakan akalbudi-akalnalarnya, akalnalarnya dipanjatkan melintasi ruang-waktu, yang kemudian memantapkan pilihannya untuk menjadi ahli mencuri, daripada bekerja sebagai ahli kunci. Ini adalah contoh intuisi kebenaran yang pastisalahnya, karena akal nalarnya teresonansi, sehingga tidak mencapai kebenaran yang pastibenarnya. Resonansi dan mimpi yang benar, yang menghasilkan individu memilih kebenaran yang pasti salahnya, akan saya bahas, jika anda menginginkannya.

7. Mimpi Yang Benar: Paling tinggi kedudukannya sebagai salah satu sumber metascience.Ini salah satu pendapat baru saya dalam metascience. Saya akan membuktikannya jika anda berkenan. Jika anda ingin menguasai metascience, sering-seringlah bermimpi. 8. Wahyu. Tidak saya bahas.

16 Feb 2001. 10.02 WIB

Selamat Bermimpi. Salam. Hilal Achmar.


XVIII. METASCIENCE TINGKAHLAKU MANUSIA

Pada jalur science yang lain lagi, tingkahlaku manusia dipelajari dari tingkahlaku hewan. Itu karena Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Sekarang, ilmu itu akan membuat anda tersenyum. Pada jalur yang lain lagi, justru penelitian tingkahlaku manusia yang sakitlah yang banyak dipublikasikan. Pada jalur yang lain lagi, penelitinya berusaha mempelajari tingkahlaku manusia yang sehat. Penelitian ini sulit dilakukan.

Tingkahlaku Individu Dengan Penyesuaian Baik.

Singkatnya, individu ini selalu menyesuaikan tingkahlakunya dengan tingkahlaku orang, komunitas, atau masyarakatnya, agar tingkahlakunya sesuai dengan norma, agar ia tidak dianggap aneh apalagi sakit, padahal aneh, dan memang sakit. Saya akan memberikan ilustrasi.

Pada saat antri, orang tertib berdiri, padahal antrian mengular, berapa puluh kali lebih panjang dari ular terpanjang yang pernah ditemukan. Individu dengan penyesuaian tingkahlaku yang baik, akan berdiri terus-menerus dalam antrian, walaupun kakinya pegal bukan alang-kepalang. Kalau anda mengenal saya, saya tidak akan berdiri dalam antrian, saya akan duduk, walaupun di lantai! Apakah dengan duduk, ketika 500 orang orang berdiri dalam antrian, saya bertingkahlaku buruk?

Søren Aabye Kierkegaard, Bapak eksistensialisme, lahir 5 Mei 1813 di Kopenhagen, pasti akan senang sekali dan pasti matanya berbinar-binar, melihat saya duduk santai diantara 500 orang yang berdiri mengantri…… Eksistensialisme, telah menjadi salah satu bagian yang membentuk tingkahlaku saya, sejak saya kelas III SMP. Saya membaca lebih dahulu tentang eksistensialisme, mungkin lebih awal dari mahasiswa baru di fakultas psikologi, yang tidak berlatar belakang ilmu yang meta……….

Muhammad Badrul, seorang asal Sumatra Barat yang menjadi mahasiswa di MIPA pada tahun 80-an di UGM, mengejutkan saya dengan peribahasa asal daerahnya, yang saya akan ilustrasikan dibawah ini:

Jika Dikurung, Kita Di Luar.

Bayangkan anda dan sekelompok orang, dikurung oleh sebuah tali lasso, yang dapat dikencangkan. Ingatlah peribahasa dari Sumbar itu. Anda harus berada diluar! Bagaimanapun caranya. Kalau perlu, sudah berada diluar, ketika kelompok orang yang lain baru sadar mereka sebenarnya telah terkurung tali lasso! Yang saya ingin katakan adalah, kita berada diluar, karena kita ingin bebas dari kesulitan. Kita juga menghormati, kebebasan memilih dari kelompok orang yang terkurung itu. Hanya kita tidak mau mengikuti, dan berpenyesuaian baik terhadap tingkahlaku yang akan merugikan kita itu!

Ketika Dihimpit, Kita Di Atas.

Jika anda lengah, dan telah terkurung, dan tali lasso itu mulai dikencangkan, sehingga mulai menghimpit anda dan semua yang terkurung, anda harus berada di atas! Supaya anda bebas bernafas. Bebas dari segala kesulitan. Anda tidak boleh berpenyesuaian baik, terhadap segala yang merugikan, baik itu terhadap kelompok yang lima M, maling, minum, main judi, main perempuan dan madat narkotika. Atau ideologi yang mengakali manusia, agar manusia menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Atau manusia hipokrit, yang rela dijerat kemiskinan dan kebodohan……..

Yang saya ingin terakan adalah, Local Genius yang kita punyai, tidak kalah dengan Søren Aabye Kierkegaard sebagai Global Genius, dalam menerangkan kebebasan, sebagai substansi Eksistensialisme………

Wahai Muhammad Badrul, yang sudah 23 tahun tidak lagi bertemu dengan saya, dan para penerus local genius, saya berterima kasih kepada anda sekalian. Seperti kebiasaan saya, mungkin post ini diedit lagi…

Salam Lokal Genius! Hilal Achmar.

 

 

XVII. METASCIENCE SANG PEMENANG

Mohon maaf, posting saya memang ditulis dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah penulisan ilmiah. Saya memang tidak dalam tugas menulis buku bukan? Ini adalah posting yang ke 17.

Semua orang mendambakan menjadi Sang Pemenang dalam segala bidang yang digelutinya. Psikologi menyatakan, bahwa manusia dapat berkembang kesegala arah, dengan persiapan yang matang. Untuk dapat berkembang kesegala arah, kita memang harus menuntut diri kita yang keras-keras…………

Kegagalan, seringkali dialami individu yang tidak keras menuntut dirinya.

Saya ingatkan kembali tentang kapasitas yang dipunyai seorang individu dalam pembelajaran, dan kapasitas diri kita sendiri, dalam mencapai kondisi yang kita inginkan. Saya senang main catur, seringkali menjadi juara, baik perseorangan atau beregu, karena saya mengetahui, dibidang caturlah saya dapat menjadi juara!

Anda tidak perlu bertarung di ring tinju untuk menjadi juara.

Tapi, anda harus bertarung dibidang lainnya, yang memungkinkan anda menjadi juara! Sampai berusia 30 tahun, saya masih bertarung untuk mendapatkan gelar juara catur, terlebih lagi untuk memperkokoh sisi psikologis saya.

Bapak saya menjuluki saya Si Kura-kura. Siapa binatang tercerdik dalam fabel Indonesia? Kancil? Salah. Yang tercerdik adalah kura-kura. Dalam seluruh Fabel tentang Kancil, hanya kura-kura yang dapat menandingi kecerdikan kancil. Inilah kisahnya:

Kancil yang langsing dan cepat, menantang kura-kura untuk balapan lari. Kura-kura setuju. Esok harinya, pertandingan diselenggarakan. Kura-kura berkata pada kancil di garis start, bahwa ia akan berlari di balik semak, karena malu, dirinya sangat lambat (dasar lelet!). Kancil setuju, karena pasti menang! Padahal, banyak kura-kura telah berbaris dari garis start sampai finish. Ketika pertandingan dimulai, kancil lari sekuat tenaga, tapi kura-kura itu selalu muncul didepannya, untuk masuk kembali ke semak. Sampai 10 langkah kancil mendekati finish, keluarlah kura-kura yang berada dibaris  terdepan, 2 langkah dari garis finish. Satu langkah, dua langkah, maka kura-kura melewati garis finish lebih dahulu dari kancil. Kura-kuralah Sang Pemenang. Yang saya ingin katakan adalah:

Untuk menang, Selain Visi dan Misi, Anda Harus Ahli Taktik & Ahli Strategi. Pertarungan Sebenarnya Adalah Pertarungan antara Taktik & Strategi. Itulah Yang Akan Mengantarkan Anda Menjadi  Sang Pemenang.

Salam Strategi. Hilal Achmar

 

 

 

XV. METASCIENCE PENDIDIKAN

Pendidikan yang saya jalani di sekolah/universitas adalah pendidikan science, karena saya selalu memilih bidang eksakta. Yang akan saya titik beratkan, adalah sistem pembelajaran yang efektif dan efisien untuk Global Science, baik itu science maupun metascience. Berikut, akan saya bahas satu demi satu.

1. Belajar Bersendirian Atau Berduaan.

Pada saat saya masih di SD, saya meminta Bapak saya untuk mengajari saya global science, ialah science & metascience, setiap jam 3.00 pagi sampai waktu subuh tiba. Dalam waktu lama, beliau membimbing saya dalam science dan metascience. Beliau ‘mengkloning’ ilmunya kepada diri saya. Waktu SMP, beliau menyediakan buku-bukunya untuk saya baca, dengan cara, meletakkannya di meja ruang tamu, atau meja makan. Pada waktu SMP, saya telah membaca ratusan buku, ratusan novel, dan mulai mengerti dasar-dasar metascience. Yang saya ingin katakan adalah, belajar bersendirian atau paling banyak berduaan, memberi kesempatan kepada pendidik/guru dalam mengkloning pengetahuannya kepada muridnya. Puluhan guru dan dosen saya, tidak pernah berhasil mengkloning banyak pengetahuannya kepada saya, sebanyak Bapak saya mengkloning pengetahuannya kepada saya. Anda pasti setuju. Bukankah Bapak saya menyediakan ratusan buku pilihannya untuk ditransfer dan mengkloningnya pada dada saya?

2. Bertanya Adalah Separuh Ilmu Pengetahuan.

Berkaitan dengan no 1. diatas, belajar bersendirian menyebabkan saya bertanya-tanya secara bebas lepas, tanpa takut ditertawakan, dan menghilangkan sifat hipokritis dalam diri saya. Kalau saya bertanya, dimana sebenarnya Tuhan berada? Dimana Tuhan berada itu sudah separuh pengetahuan, separuhnya lagi, saya sudah mengetahui adanya Tuhan. Itu maksudnya……..

3. Belajar Dengan Pendidik Yang Mengetahui Benar Kapasitas Kita.

Pada waktu kuliah dulu, kelas saya bisa dipenuhi oleh 100-150 orang, dengan satu dosen. Apakah dosen itu mengetahui kapasitas keilmuan masing-masing mahasiswanya? Saya kira pasti tidak, paling hanya mengetahui satu atau dua kapasitas mahasiswanya yang menonjol. Anda fikir ini efektif? Pasti tidak. Saya akan mengilustrasikan, bagaimana belajar berduaan, mencapai hasil yang efisien dan efektif. Pada waktu saya tingkat I atau II di UGM, saya tinggal di Sosrokusuman,  tepat di belakang Yogya Mall. Didepan rumah saya, ada hotel kecil, namanya Hotel Intan. Ada seorang pengayuh becak, namanya Tri, masih muda, sekitar 18 tahunan, sering mangkal di depan hotel itu menunggu penumpang. Pada saat dia menunggu, saya mendekatinya, dan mentriggernya untuk belajar bahasa inggris, saya katakan, dia nanti bisa menjadi guide. Kemudian, sambil menunggu, dia belajar bahasa inggris. Saya selalu mencarinya di depan hotel itu, untuk menyemangatinya. Kemudian dia menjadi guide. Tidak ada setahun, dia telah melanglang ke Paris, Perancis, diajak oleh seorang turis wanita. Dia diajak menikah disana…………………… ……………….Saya mengetahui benar kapasitas yang dipunyai Tri….………………

Selamat Mendidik. Salam. Hilal Achmar.

XIV. METASCIENCE INSTANTA & FOKUS

Antara tahun 80 sampai 90-an, bagi teman-teman yang mengenal saya pada dekade itu, saya mengatakan, Amerika Serikat akan bangkrut. Dunia akan bangkrut, jika kebanyakan manusia tidak lagi fokus pada ilmu-ilmu dasar, lebih fokus pada ilmu praktis. Pada saat saya lulus saat ujian pendadaran, profesor saya berpesan kepada saya, agar saya membaca juga buku ilmu-ilmu praktis. Kemungkinannya: 1. Beliau takut, saya akan menekuni ilmu-ilmu dasar, berhenti pada ilmu dasar, dan tidak memaksimalkan kapasitas yang saya miliki. 2. Beliau takut, saya tidak kebagian mendapatkan harta benda dunia dengan menekuni ilmu-ilmu dasar saja. Yang manapun dari keduanya, beliau benar!

Instanta.

Segalanya sekarang serba instant. Anda mengetahuinya. Dari makanan, pakaian, rumah, pendidikan, apa saja, yang serba instant yang diminati. Mengapa begini, mengapa begitu, tidak lagi diminati. Maksud saya, pembahasan yang lebih detail akan masalah/pekerjaan/pendidikan tidak diminati lagi. Saya fikir, Yogya sebagai gudang ilmu, oleh karena itu, dahulu saya menuntut ilmu disana, saya kira hari ini berkurang peminatnya, dan akan berkurang terus peminatnya. Kedepan, Yogya tidak lagi akan menjadi Kota Pendidikan. Alih-alih dari Yogya akan mengubah dunia, malah Yogya dalam proses dirubah dunia!

Realitas Lampau

Siapa mau peduli kota kelahiran leluhur saya itu? Saya katakan, secara metascience, kita tidak dapat menolong Yogya mencapai kejayaannya kembali sebagai Kota Pendidikan, seberapa keras pun usaha anda. Sebabnya adalah: Yogya sebagai kota pendidikan, adalah realitas lampau. Lebih mudah, Yogya dibawa pada realitas kini, bahwa, ada kerajaan dalam negara republik, atau, realitas kini apapun, yang anda fikir dapat diimplementasikan untuk Yogya. Pendirian Universitas dan Pendidikan instant di Indonesia itulah penyebab Yogya kehilangan pamornya sebagai kota pendidikan. Hasil pendidikan tidak bisa instant. Jika para Guru Besar, Doktor dan Dosen di Yogyakarta, masih fokus mengajarkan ilmu-ilmu dasar, berdampingan dengan ilmu praktis, hasilnya akan dipetik beberapa tahun kedepan, seperti kita memetik hasil, di daerah manapun kita belajar ilmu-ilmu dasar yang kuat.

Hasil Pendidikan Ilmu-ilmu Dasar Yang Kuat.

Universitas Indonesia memantau dan memanggil pulang alumninya yang pernah belajar ilmu dasar di UI, untuk menularkan pada mahasiswa adik-adik kelasnya. Apakah UGM memantau dan pernah memanggil pulang alumninya? Yang saya akan katakan adalah:

Ada banyak realitas dan kebenaran pada individu lain selain yang kita yakini. Kebenaran tidak hanya satu. Dalam persoalan makan siang dimana hari ini, saya punya 3 kebenaran. Anda mungkin punya 5…….

Waktunya makan siang. Salam. Hilal Achmar.

 

XIII. METASCIENCE KESADARAN

Tepi alam semesta berjarak1,23 x 10 pangkat 23 km dari tempat saya menulis posting ini. 10 pangkat 23 artinya angka satu dengan nol sebanyak 23. Itu berguna bagi kesadaran saya. Itu bukan hanya jarak ke tepi alam semesta, ada milyaran galaksi dan benda-benda langit lainnya. Galaksi adalah kumpulan bintang-bintang, seperti anda dapat saksikan pada malam hari, Milky Way. Menurut besaran, manusia agaknya kecil sekali, atau, jika 7 milyar manusia dimampatkan berbentuk bola, masih sepermilyar titik dibandingkan besaran volume alam semesta. Nyata bahwa, penciptaan alam semesta, jauh lebih sukar dari penciptaan manusia. Galaksi, bintang, bisa dikatakan seperti manusia. Mereka dilahirkan, hidup, mempunyai cahaya sendiri, dewasa, tua, kemudian mati, tidak lagi mempunyai cahaya sendiri.

Kesadaran Akan Alam semesta.

Sebagai pembuka diatas, saya kira cukup untuk meningkatkan kesadaran kita,bahwa, semesta yang kita huni ini, penciptaannya lebih sukar dari penciptaan diri kita. Explorasi manusia terhadap alam semesta, akhirnya berujung pada explorasi manusia pada dirinya sendiri, bahwa dirinya kecil, dirinya bukan apa-apa, dirinya tidak berdaya dan sebagainya.

Kesadaran Akan Adanya Individu Lainnya.

Kesadaran akan adanya 6,5 menuju 7 milyar individu lain selain dirinya, menempatkan manusia berada pada relativitas yang tinggi. Anda kaya dan ganteng/cantik, kalau anda berada di Indonesia. Semakin kaya, dan semakin ganteng/cantik kalau anda pindah ke Benua Hitam Afrika yang miskin. Anda seketika akan jadi orang miskin kalau pindah ke New York atau Tokyo.

Yang memicu kesadaran, masih banyak lagi, seperti kesadaran akan Tuhan, kesadaran akan lingkungan, dan segala kesadaran yang membuat anda menjadi lebih sadar akan diri dan tempat diri anda dalam alam semesta. Kesadaran ini, mengantarkan anda pada aktualisasi diri, yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Pembahasan lebih jauh, baiklah anda membaca buku-buku psikologi yang banyak beredar.

Yang menjadi bahasan kita adalah kesadaran menurut metascience. Misalnya, kalau kita mengetahui jarak tepi langit, dapatkah kita melintasinya? Kalau kita menyadari adanya Tuhan, dapatkah kita menjumpainya? Kalau kita menyadari adanya individu lainnya selain diri kita, apakah kita mengetahui mereka? Kalau anda berhasil mencapai gelar Prof. Dr., anda akan menjumpai manusia lainnya yang tidak seberuntung anda. Kalau setelah itu anda berharap menjadi kaya, dan kekayaan itu tidak datang-datang, segala usaha menjadi kaya gagal, anda akan menjumpai Tuhan anda. Ini adalah pesan, seperti saya katakan dalam posting saya yang lain.

Kesadaran akan adanya pesan pada saat gagal, setelah banyak mengorbankan uang, waktu, dan tenaga itulah yang selayaknya kita hindari. Maksudnya, kita jangan sering-sering gagal-lah. Yang saya ingin katakan adalah:

Sering-seringlah Menjumpai Tuhan Anda, Sebelum Tuhan Anda Memberi Pesan Bagi Anda.

Salam. Hilal Achmar