28. METASCIENCE: METAMANUSIA

Sebenarnya kita semua adalah manusia yang meta atau katakan saja metamanusia. Sayangnya, tidak semua manusia mau mengakui, bahwa dirinya adalah metamanusia, yang terdiri dari 2 bagian besar: Raga dan Sukma. Kalau kita mengakui adanya meta dalam bentuk sukma dalam diri kita, untuk mempelajari dan mengerti tentang sukmadiri, apakah dapat dipelajari dengan science? Ya, satu bagian, bagian tingkahlakunya. Satu bagian yang lain, hakikatnya, tidak bisa dipelajari dengan science, maka, metascience memberi jalan untuk mempelajari hakikat sukma. Saya akan memberikan ilustrasi: Mempelajari tingkahlaku makan untuk jamuan makan malam resmi pada syukuran teman yang menjadi profesor, tentu anda akan mematut pakaian apa yang harus anda kenakan, dimana anda harus meletakkan tas, bagaimana selayaknya mempergunakan sendok-garpu-pisau, dan bagaimana cara mengunyah yang sopan, adalah tingkahlaku makan. Sedangkan hakikat makan adalah: Untuk Hidup!

Sekarang, kalau kita mempelajari manusia, kita mempelajari tingkahlaku raganya, tindakannya, ideanya, yang bisa kita ‘lihat’ dan eksplorasi. Sedangkan hakikat manusia adalah: Sukmanya! Maka, ada ahli yang mengatakan, bahwa kita adalah Manusia Langit (keren juga ya..).

Kita di Indonesia, hidup & berkehidupan dengan (secara tidak sadar), menganalisa tindakan kita sebelum bertindak, apakah tingkahlaku kita sesuai dengan ajaran spiritual yang meta. Misalnya, jika kita berbicara dengan orang yang lebih tua, atau orang yang lebih mempunyai jabatan, kekuasaan dan kaya, untuk tidak menyinggung ‘ketuaannya’ atau ‘kekayaannya’ otomatis, kita bertingkahlaku sopan dalam berbicara. Artinya apa?

Masyarakat Timur Lebih Mengedepankan Sukma Dari Raga, Walaupun Belum Sepenuhnya Disadari.

Sayangnya, tingkahlaku yang baik itu, tidak sepenuhnya disadari.Apa yang anda fikirkan sehari-hari? Bekerja, mencapai karir yang anda inginkan, mempunyai uang banyak, berharap hari per-hari anda mendapatkan keberuntungan, membangun rumah yang nyaman. Orang tua menganggap anda sedang mengembangkan diri. Rupanya, definisi ilmu pengembangan diri, telah sedikit bergeser artinya dalam masyarakat kita.

Menurut Saya, Pengembangan Diri Lebih Tertuju Untuk Sukma

Dalam mengembangkan kelayakan kehidupan kita, kita tidak boleh lupa mengembangkan sukma kita. Saya ingin bertanya, jika anda telah mengembangkan kehidupan, sehingga anda telah diindisikan makmur, dengan indikator yang ada dalam lingkungan anda, seberapa maju anda telah mengembangkan sukma anda? Darimana indikatornya? Semuanya hanya anda yang tahu, baik perkembangan sukma anda maupun indikatornya. Dan itu bergantung seberapa banyak anda mempunyai referensi, kevalidan referensi, dan arah pengembangan yang ditunjukkan oleh referensi anda tersebut.

Dalam Perkembangannya, Kala Semakin Tua, Raga Semakin Renta, Sedangkan Sukma Semakin Bijaksana.

Pada akhirnya, raga akan semakin tua renta tidak berdaya, sukma semakin pikun dan pelupa. Inilah yang manusia selalu ingin mencegahnya, selalu ingin lari dari tuarenta tak berdaya.  Untuk mengetahui apakah referensi anda valid tentang pengembangan sukma dan memberi arah yang benar, kalau telah tuarenta, dan ingin mengetahui apakah sukma anda telah bijaksana atau belum, apakah indikatornya?

Mengingat Kematian! Yang Manusia Selalu Lari Darinya!

Dari uraian diatas, yang ingin saya katakan adalah, benar bahwasanya manusia ada yang menjalankan kehidupan spiritual dalam tingkahlakunya, tetapi, kehidupan spiritual itu tidak sepenuhnya disadari, timbul akibat refleks tingkahlaku, yang pernah dilakukan ribuan kali. Atau yang semakna, tingkahlaku yang bersifat spiritual itu, lebih berasal dari akal logika atau meniru tingkahlaku individu/masyarakat, daripada berasal dari sukma, yang memujud dalam akalnalarbudi. Ilustrasinya adalah: Anda meniru hidangan sirloin steak dari resto bintang lima. Cara menyajikan dan cutting dagingnya telah benar. Tapi rasanya: Tidak karuan. Bahkan: Tidak karu-karuan…… Yang saya ingin katakan adalah:

Duplikasi Tingkah Laku, Tidak Ada Manfaatnya Dalam Perkembangan Sukma! Perkembangan Sukma Hanya Dapat Dilakukan Dengan Memberi Tahu Sukma Tentang Tingkahlaku Yang Nyatabenarnya!

Itu salah satu kritikan tentang behaviourisme. Oh, bukan. Behaviourisme kan tidak membicarakan spiritual ya.. Untuk menjadi metamanusia, kita harus mendidik sukma kita. Mengapa saya katakan mendidik? Karena sukma dan raga kita ini, sudah ada yang ready for use, ada yang belum. Template yang ada pada sukma itu, belum ready for use, untuk mencapai kapasitas maksimalnya, masih harus diberdayakan/dilatih. Begitu juga dengan tangan, sudah ada, tetapi belum ready for use untuk mencapai kapasitas maksimalnya.

Anda harus melatih tangan anda untuk memukul bola golf, agar bola tidak melayang kemana-mana….. Begitu juga, anda harus melatih sukma, agar sukma tidak tertinggal perkembangannya……..

Kemudian ada Sukma yang lainnya lagi. Ialah, Sukma yang berasal dari SMA IIIB Yogyakarta. Oh, ini tidak saya bahas. Beliau teman saya yang terbaik. Walaupun saya bertingkahlaku dengan ‘penyesuaian tidak baik’, Beliau ‘rela’ menyapa saya… Soalnya… lebih banyak kawan putri yang ‘tidak relanya menyapa saya…’ (Serem kali ya..). Se itu saja saya bahas yaa..

28 Feb 2011. Selamat Menempuh Metamanusia Baru. Salam Sukmagurujati. Hilal Achmar.

Advertisements

27. METASCIENCE HYPNOTIC AND SELF-HYPNOTIC

Definisi tentang hipnotis dan self-hipnotis ada banyak. Yang kita akan bahas adalah state/keadaan hipnotis dan atau self-hipnotis itu sendiri. Sebagaimana biasanya, kita akan membahas, sebagaimana intinya, hakikatnya dan dasarnya.

Keadaan hipnosis adalah suatu keadaan individu/banyak individu, yang alam bawahsadarnya diinduksi oleh individu/banyak individu, sehingga sang individu, dengan panduan ahli hypnose, dapat mengikuti segala perintah sang ahli, atau menampilkan segala yang ada dalam alam bawahsadarnya. Contohnya sudah banyak di TV, sehari-hari, hipnotisme bisa dilakukan untuk kejahatan, dengan berita di koran: orang digendam.

Selfhipnotis adalah individu dengan kekuatan akalnalarbudi-nya, menghipnotis dirinya sendiri, agar mencapai segala sesuatu yang diinginkannya.

Contohnya adalah: Jika anda ingin menjadi pemimpin di kantor anda, anda harus menghipnotis diri anda sendiri, agar tujuan anda tercapai. Tentunya, pada kantor yang ada indikator kinerjanya. Pada kantor yang kenaikan jabatan dan pangkat diberikan karena lamanya anda bekerja, anda tidak usah menghipnotis diri, lihat saja kalender. Menghipnotis diri, adalah usaha anda dalam metascience, dalam hal ini menjadi pemimpin di kantor anda. Kalau anda pernah mengikuti pelatihan kepribadian atau kepemimpinan, akan lebih banyak lagi hasilnya. Metascience, agak sedikit lain metodenya, yang kelihatannya tidak berkaitan langsung dengan tujuannya.

METODE SELF-HIPNOTIS

1. Biasakan bangun pagi hari, antara jam 3.00 atau jam 4.00 pagi. Apa ada hubungannya bangun pagi untuk jadi pemimpin? Ada. Pada jam 3 atau 4 pagi itu, manusia di lingkungan anda belum banyak yang bangun, atau malahan, anda sendiri yang bangun, yang lainnya masih tidur. Pada kondisi seperti ini, jangan ada video-audio. Apa yang terjadi? Anda tidak bisa bicara kepada siapapun, tetapi fikiran anda tidak pernah berhenti ‘berbicara’ bukan? Kepada siapa fikiran anda berbicara? Kepada alambawahsadar anda. Yang ingin saya katakan adalah:

Bangun Pagi Adalah Salah Satu Jalan Memasuki Alambawahsadar.

Kemudian, pada pagi yang sunyi itu, anda katakan pada alambawah sadar anda: Saya Pemimpin Di Kantor Saya. Berulangkali, sampai anda merasakan, anda benar-benar telah menjadi pemimpin dikantor anda, mempunyai kekuasaan memerintah, mengambil keputusan, dan mempunyai banyak bawahan. Walaupun sebenarnya anda belum menjadi pemimpin. Lakukan hal ini berulangkali, sampai anda merasa mampu menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

2. Rubah Tingkahlaku Anda. Anda harus berfikir yang nyatabenarnya, dengan menggunakan akalnalarbudi, bukan hanya logika. Anda harus menerapkan 70 sifat baik yang pernah saya posting sebelumnya. Perubahan tingkahlaku ini sampai soal makan-minum-tidur. Makan dan minum jangan berlebihan, lambung diisi kira-kira, sepertiga untuk makanan 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi dikosongkan, supaya dapat bernafas dengan bebas. Jika kita mengurangi makan, justru tubuh kita akan panas dalam keseharian kita, dan ini berhubungan dengan kegiatan akalnalarbudi. Keterangan tentang ini, tidak saya bahas. Yang jelas adalah, jika kita terlalu kenyang setiap hari, akalnalarbudi kita tidak dapat bekerja dengan sempurna. Begitu juga jika terlalu banyak tidur.

3. Berlatih Melihat. Telah saya katakan pada beberapa posting terdahulu, bahwa cara kita melihat dengan pandangan tidak fokus, seperti melamun atau berfikir, dimana sudut pandang ke kiri dan kanan menjadi melebar, akan membawa ‘penglihatan’ kita lebih cermat, sehingga kita dapat melihatcermat. Cara melihat seperti ini, adalah salah satu jalan untuk memasuki alambawahsadar yang paling mudah dan sederhana.

4. Memberi Bimbingan Dan Informasi Kepada Alam Bawah Sadar. Alambawahsadar, berkecenderungan buruk jika tidak diberi bimbingan. Juga berkecenderungan ‘pura-pura tidak tahu’ kalau tidak diberikan informasi ulang, padahal, sebenarnya, alambawahsadar itu ‘tahu’. Contohnya: Alambawahsadar anda, tidak pernah memacu anda untuk menjadi pemimpin di kantor anda, ‘pura-pura tidak tahu’, padahal, sebenarnya ia (katakan saja alambawahsadar itu satu pribadi) ‘tahu’ bahwa anda bisa dan mampu untuk menjadi pemimpin di kantor!  Kemudian, jika anda akan menjadi seorang pemimpin yang berguna dalam mensejahterakan sebagian umat manusia, maka alam bawahsadar anda akan menentangnya, dan menghambat anda! Maka alam bawah sadar, perlu kita beri bimbingan dengan memberinya informasi berkali-kali, bahwa: Saya Pemimpin Di Kantor Saya. Pada setiap pagi yang sunyi itu………… Artinya, kita berkomunikasi dengan alambawahsadar kita, dengan bahasa yang mudah dimengerti, tidak panjang lebar.

5. Meningkatkan Kapasitas Alambawahsadar. Artinya, kita membimbing alambawahsadar kita, supaya ‘tahu’, terhadap persoalan yang ia pura-pura tidak tahu! Dan akhirnya, kita dapat membimbingya untuk mengetahui segala informasi, berkaitan dengan tujuan hidup kita, pada posting terdahulu: Bahagia Di Dunia Dan Akhirat! Hey bawahsadar… jangan pura-pura tidak tahu lagi ya….. Kira-kira begitu kita katakan kepada-nya……….

6. Aplikasi, Pencapaian Dan Evaluasi. Aplikasikanlah 70 sifatbaik itu dengan berfikir dengan akalnalarbudi yang nyatabenarnya, berkata benar dan bertindak benar dalam kehidupan anda di kantor dan di mana saja. Kemudian, bertingkahlakulah sebagai BOSS betulan di kantor anda, bukan BOSSY! Ada dua tingkahlaku yang cepat mendudukkan anda di kursi BOSS. Pertama bimbinglah karyawan lainnya, dan kedua, bantu karyawan dan perusahaan menyelesaikan persoalannya. Walaupun belum menjadi BOSS sungguhan, kwalitas anda sekarang adalah kwalitas BOSS sungguhan. Tinggal tunggu waktu dan syukurannya saja anda jadi boss sungguhan………………. Jika sudah/belum menjadi boss, evaluasi saja dipagi nan sunyi, bersama kawan baru anda, si alambawahsadar…………

7. Tugas Baru Untuk Alambawahsadar. Jika anda sudah jadi pemimpin, boss di kantor anda, beri tugas baru pada alambawahsadar anda. Katakan padanya: Saya Mempunyai Kantor Cabang Di Tujuh Provinsi. Seperti biasanya, memberi informasi, padahal, satu pun anda belum punya kantor cabang. Seperti biasanya juga, alambawahsadar anda ‘pura-pura tidak tahu’, bahwa anda bisa dan mampu! Ketika anda telah mempunyai tujuh kantor cabang, beri tugas kepadanya, untuk mendukung anda membuka kantor cabang di seluruh provinsi! Kawan, jelaslah sudah, itulah maksudnya kita menghipnotis diri kita sendiri…..   Beressssss………….

Selamat Menghipnotis. Salam Kita Menghipnotis Kita . Hilal Achmar

26. METASCIENCE PEMERINTAHAN

Pemerintah yang ‘seharusnya’ ada dalam negara-negara di dunia adalah, sekelompok orang, yang mempunyai kapasitas sebagai negarawan, yang mendapat legalitas dari bangsanya. Contoh negarawan dari Indonesia adalah Sang Maha Patih Gajah Mada, dari kerajaan Majapahit (Girindra Wardhana), yang bercita-cita menyatukan Nusantara, dan tidak akan memakan palapa sebelum cita-citanya terwujud. Negarawan dapat kita artikan saja, ialah manusia yang mempunyai banyak ilmu yang berguna, baik bagi dirinya maupun yang lainnya, dan terampil bekerja dengan ilmu yang dimilikinya, visioner, dipercaya, sehingga bangsanya mau mewujudkan visi masa depan yang diperlihatkannya.

Visi Pemerintah yang seharusnya ada adalah: Kita Akan Sejajar Dengan Negara-negara Makmur / kaya. Jika demikian maka Misi Pemerintah adalah memberdayakan rakyatnya dalam segala bidang, sehingga dapat duduk sejajar dengan negara-negara makmur. Bagaimana misi ini dicapai? Dengan membuat individunya otaknya pintar, badannya sehat, dan sakunya penuh. Tiga saja dulu, saya kira cukup.

1. Membuat Individu/Rakyatnya Berotak Pintarcerdik.

Strateginya adalah: Rupanya harus ada menteri/Kementrian Urusan Globalisasi dulu! Globalisasi adalah: Individu/Rakyat di suatu negara, saling bersaing dengan Individu/Rakyat dari negara lainnya. Misalnya, seorang dokter di Indonesia, harus bersaing dengan dokter lainnya di….. seluruh dunia… (Wah…. beratnya…….. ). Juga seorang petani kedele, harus bersaing dengan petani kedele dari seluruh dunia, misalnya dari hasil panen per hektar, kecerahan warna kedelai, kandungan proteinnya dan sebagainya. Memang berat. Tapi kita senang kan ada era globalisasi! Senang ada era globalisasi, tanggungjawabnya adalah harus juga senang bersaing, kalau tidak, kita akan jadi bangsa pinggiran atau orang pinggiran. Kapan-kapan, anda yang pandai globalisasi, usul pada presiden, agar anda jadi mentri globalisasi. Malah banyak kerjaannya: Iklim Global yang menggagalkan banyak panen, baik padi maupun mangga, migrasi global, perdagangan global, supaya tidak diakali terus oleh bangsa-bangsa yang pintar………………………….

Membuat individu pintar, tidak ada cara lain, selain dengan pendidikan. Pendidikan juga harus dipilih yang mempunyai realitas baru, bukan realitas lama, yang lambat menghasilkan kemajuan bangsa.

Realitas Baru Vs. Realitas Lama Dalam Pendidikan

Realitas Baru dalam pendidikan adalah: Pendidikan yang mengacu pada pendidikan apa yang dibutuhkan dalam memberdayakan masyarakat, supaya sejajar dalam persaingan kemakmuran, kewibawaan, dan kecerdikan antar bangsa-bangsa di dunia. Kita punya tanah dan laut. Pasti dalam bidang itu kita unggul, karena kita punya sumberdaya yang melimpah (tanah dan laut yang luas). Karena penduduk dunia bertambah terus, dan karena iklim global, jangan-jangan teori Robert Malthus (1766-1834), yang dianggap ‘salah’, menjadi benar karena ‘kebetulan’. Malthus mengatakan bahwa populasi manusia berkembang lebih cepat, sedangkan persedian makanan berproduksi lebih lambat. Benar atau salah, tidak kita persoalkan, yang ingin dikatakan Malthus adalah: 1. Dia khawatir, manusia kekurangan makanan. 2. Penduduk dunia harus diberi makan!

Indonesia pernah gagal menuju negara industri, dengan tujuan pembangunan jangka panjang, bahwa kita akan dapat menghasilkan mesin yang memproduksi mesin. Pada era industri, memang, bekerja dalam bidang pertanian dan kelautan adalah realitas lama, yang sulit untuk maju seiring dengan negara-negara industri. Makanya, tahun 70-an sampai akhir 90-an, kita bercita-cita maju seiring dengan bekerja dalam bidang industri.

Sekarang telah era informasi. Realitas lama pertanian, kini menjadi realitas baru dalam era informasi dan globalisasi, dimana, mudahnya, negara-negara maju yang telah meninggalkan basis pertaniannya, (maksudnya, rakyatnya tidak mau lagi bertani!), adalah keuntungan yang ‘kebetulan’ bagi kita, bahwa kita punya tanah dan laut yang terus ada.

Yang saya ingin katakan adalah:

Realitas lama, dapat menjadi realitas baru yang menguntungkan. Inilah tugas para pendidik, memberikan realitas baru, memperbaharui realitas lama yang dianggap usang, dan memberikan alasannya.

2. Membuat Individu/Rakyatnya Berbadan Sehat.

Sudah ada Kementeriannya, undang-undangnya, peraturan pemerintahnya dan peraturan menterinya, juga sudah ada peraturan daerahnya. Saya tidak bahas. Mungkin nanti tentang Metasscience kesehatan.

3. Membuat Individu/Rakyatnya Bersaku Penuhtebal.

Dengan penyediaan lapangan pekerjaan. Jika rakyat rajin bekerja dan tersedia banyak lapangan pekerjaan, ini urusan Departemen Tenaga Kerja & Badan Koordinasi Penenaman Modal, maka rakyat akan berkantung penuhtebal. Ya, minimal satu bulan sekali……………….Tidak saya bahas. Mungkin nanti akan saya tentang Metascience Kekayaan.

24 Feb 11. Selamat Berotak Pintar, Berbadan Sehat dan Besaku Tebal.  Salam. Hilal Achmar.

25. METASCIENCE PENDIDIKAN BANGSA

Kita akan membahas pendidikan bangsa, waktunya, mulai balita sampai tua. Pendidikan, waktu saya kuliah dahulu, tujuannya adalah: Agar Menjadi Manusia Yang Bijaksana. Atau Agar Menjadi Manusia Seutuhnya. Kemudian ada lagi: Agar Menjadi Manusia Berkarakter. Ada lagi tujuan pendidikan? Ya, anda juga tahu, masih banyak lagi. Kemudian, setelah kita dididik sekian lama, apakah kita telah menjadi manusia yang bijaksana, manusia seutuhnya dan manusia yang berkarakter, atau telah menjadi manusia super!, sekalian saja ya?

Dalam metascience, kita mencari hakikatnya, dengan melihatcermat. Apa yang diinginkan manusia dengan pendidikannya? Ini suatu yang bagus yang sering kita dengar, yang datang dari anak muda:

Muda Sukaria, Tua Kayaraya, Mati Masuk Surga.

Begitulah yang dimaui manusia! Muda sukaria dalam menimba ilmu dari beragam buku, dengan sedikit bumbu pesta dan cinta. Tua kayaraya, hasil bahan pembelajaran ilmu yang membumi, dan ketika wafat, masuk surga, hasil menimba ilmu agama! Jadi, terang-benderanglah, tujuan pendidikan itu ‘seharusnya’ :

Agar Manusia Berbahagia Di Dunia Dan Di Akhirat.

Berbahagia di akhirat itu khas tradisi timur. Tujuan pendidikan agar manusia berbahagia di dunia dan akhirat itu, bukankah nyatabenarnya? Benar. Tapi, dianggap ‘tidak ilmiah’, kurang pamornya, kurang elit & modern.  Oleh karenanya, mungkin, tidak ada sekolah atau perguruan tinggi di Indonesia, yang menyatakan dengan terus-terang tujuan pendidikan di lembaganya adalah: Agar manusia berbahagia di dunia dan akhirat. Kemudian, timbullah sekolah dan terminologi pendidikan yang bermacam-macam….. Dalangnya bingung, penontonnya ikut bingung………….. Dosennya bingung, mahasiswa/wi nya ikut bingung. Sampai-sampai (jangan sampai terjadi…………….)

Guru Kencing Berdiri, Murid Mengencingi Guru!

Siapa yang turut bertanggungjawab terhadap pendidikan bangsa ini? Para Guru, Dosen, dan Para Pendidik di semua lembaga. Dari posting saya yang lalu, bahwa belajar terefektif adalah bersendirian atau berdua-duaan, maka keluarga, orangtua, mempunyai tanggungjawab terbesar dalam pendidikan anak-anaknya.

Tujuan pendidikan agar manusia berbahagia di dunia akhirat, adalah Visi Bidang Pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, maupun di lembaga pendidikan luar keluarga. Apa yang harus dilakukan agar bangsa dapat berbahagia dunia-akhirat adalah Misi yang harus dikerjakan baik oleh para pendidik, para orangtua dan pemerintah. Bagaimana caranya melakukan Misi agar efisien dan efektif, adalah Strategi pencapaian tujuan itu. Kita akan membahas ini, dalam posting saya selanjutnya, ialah: Metascience Pemerintahan, oleh karena kewajiban pemerintahlah memberikan haluan pendidikan dan pendidikan bangsanya. (Sebagian sudah di Otomikan).

Dasar pengetahuan yang meta adalah hakikat. Jika anda selalu ‘melihatcermat” atau melihat dengan terang-benderang, segala kondisi, situasi dan problematika yang anda hadapi, maka anda akan menemukan hakikatnya.  Yang ingin saya katakan adalah:

Dengan Melihatcermat Hakikat Segala Sesuatu, Maka Segala Sesuatu Menjadi Mudah.

Saya akan memberikan ilustrasi.

Melihat tidak cermat dan tanpa hakikat: Kalau ingin kaya, sekolahlah yang tinggi. Melihat Cermat Dengan Hakikat: Jika ingin kaya, bekerjalah yang rajin dan smart.

23 Feb 2011. Salam Smart. Hilal Achmar

 

 

24. METASCIENCE TINGKAT AKTUALISASI

Saya berpendapat bahwa aktualisasi mempunyai tingkatan kualitas sendiri, yang beragam pada berbagai individu. Maka, manusia mempunyai lapisan-lapisan maya dalam tingkat kualitas aktualisasinya, dari beragam jalur aktualisasi yang ditempuhnya.

Saya akan memberikan ilustrasi yang Meta:

1. Kelompok saudagar, akan berkumpul dan cocok, katakanlah secara kimia dengan kelompok saudagar juga. 2. Kelompok agamawan akan cocok dengan kelompok agamawan. 3. Kelompok Pendidik, akan cocok dengan kelompok pendidik juga. Demikianlah seterusnya. Pendeknya, manusia di dunia, berada dalam kelompok yang sesuai dengan minatnya masing-masing, dan pada tingkat aktualisasinya masing-masing. Walaupun sama-sama berprofesi sebagai pendidik, biasanya, sangat sulit misalnya, pendidik kelas 1 SD, masuk dalam kelompok profesor atau doktor pendidik di universitas, karena perbedaan kualitas aktualisasinya. Kalau tingkat kualitas aktualisasinya sama, tentu saja bisa, kalau faktor like and dislike dikesampingkan. Kelompok agamawan, walau kualitas aktualisasinya sama dengan saudagar, juga akan sangat sulit masuk dalam lingkup pergaulan saudagar. Individu, teraktualisasi pada bidangnya masing-masing, dan nyaman berada dalam kelompoknya masing-masing. Tetapi yang jelas adalah: Kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan tingkat kualitas aktualisasi.

Pada Tingkat Kualitas Yang Manapun, Individu Dapat Berbahagia.

Bukankah, kebahagiaan itu pernah kita dapatkan, pada saat kita balita atau remaja, yang pada saat itu, mengertipun tidak tentang aktualisasi. Sedikit tentang kebahagiaan, kalau kita dapat mensyukuri kebahagian-kebahaiaan kecil dalam keseharian kita, cukuplah kita mendapat predikat orang yang berbahagia., sehingga kita senang berada dalam kelompok orang-orang yang berbahagia, bukan malahan timbul sifat dengki-iri. Demikianlah, kelompok yang teraktualisasi, saudagar, pendidik, pakar, seperti tergiring menuju tempat yang sama, saling mencari. Dapat dikatakan bahwa:

Sesamanya Akan Merindukan Sesamanya.

Yang paling kuat yang saya perhatikan adalah, ketika manusia telah mencapai sebagian besar ideanya, seorang diri, misalnya dalam karirnya, pada masa paruhbaya, akhirnya akan mencari sesamanya, walaupun dahulunya, tatkala masing-masing mencari jati dirinya, ada waham kebesaran pada masing-masing individunya.

Ketika Individu Telah Teraktualisasi, Ia Ingin Yang Lain Menjadi Saudaranya!

Itulah 70 sifat baik, yang telah saya uraikan dalam posting sebelumnya, yang memujud dalam diri manusia yang telah teraktualisasi. Persaudaraan! Tingkat tertingginya adalah: ia menginginkan saudaranya menjadi sebahagia dan seberuntung dirinya. Ia mau membimbing saudaranya yang kurang beruntung, untuk menapaki jalan-jalan yang menghasilkan kebahagiaan bersamanya. Dalam metascience, kita belajar dasarnya, intinya, aplikasinya, manfaatnya, maksimalnya, kaitannya, pengungkapan tersembunyinya, kesederhanaannya, keterbatasan yang tidak dapat dilampaui manusia, sehingga, segala persoalan menjadi terang-benderang.

Intermezzo:

Pendapat Saya Sampai Akhir Zaman Adalah Valid, Kalau Tidak Ada Yang Dapat Membuktikan Sebaliknya!

Saya akan senanghati, jika anda memberi masukan atau memberitahu saya, ada pendapat, atau pendapat anda sendiri yang lebih valid. Walaupun bagaimana, saya akan terus menulis.

Penghalangan, skenario besar terhadap pengalihan fokus manusia terhadap aktualisasi, adalah upaya pembodohan yang dijalankan sekelompok manusia terhadap sekelompok, suku, sukubangsa dan atau bangsa lainnya. Sengaja atau tidak disengaja, kelompok negara berkembang/miskin, individu-individunya, tidak lagi fokus terhadap tujuan hidup, cita-cita, dan pencapaian aktualisasinya. Era telah berubah, kita tidak dapat mengubah zaman, Amerika Serikat, telah saya duga akan mengalami kehancuran, segala bangsa, termasuk Indonesia, pernah mengalami masa kejayaannya dan masa kehancurannya, dan nampaknya, bergiliran diantara bangsa-bangsa. Itu yang membuat kita mudah menduganya. Mengapa Amerika akan mengalami kemunduran? Pendapat saya adalah:

Individu-Individunya Mengalami Kemunduran Dalam Keterampilan Hidup!

Orang yang teraktualisasi, tentu, mempunyai keterampilan untuk hidup, yang menjadikan kehidupannya lebih bermakna. Fokus dalam keterampilan hidup adalah kuncinya, untuk memajukan peradaban bangsa, bukan multitasking. Kejatuhan negara-negara makmur, diakibatkan oleh ‘rasa aman’ dan ‘rasa terlindungi’ yang dirasakan oleh warganya, lengah terhadap ilmu-ilmu murni dasar yang dahulunya menjadi penyebab kemakmurannya, lengah terhadap keterampilan yang begitu hebat dikuasai oleh kakek-nenek mereka. Ini bisa juga dianalogikan untuk keluarga. Jika Indonesia ingin jaya dalam bidang agraris-agrokompleks, dikira apa yang harus rakyatnya kuasai? Keterampilan dalam ilmu-ilmu pertanian pada khususnya dan ilmu-ilmu agrokompleks pada umumnya, dan ilmu-ilmu kelautan lebih umumnya lagi. Modal kita tanah dan laut, modal yang sangat besar yang nyatabenarnya kita punyai, yang nyatabenarnya juga dapat membuat kayaraya negeri kincir angin. Yang sebenarnya, nyatabenarnya juga, dapat membuat kita lebih sejahtera.

Di sudut sebuah cafe yang sangat nyaman, cafe para saudagar. Seseorang duduk dengan tenang, menikmati coffee terbaik di dunia, matanya agak melamun…. Orang ini fokus.

Di sudut lainnya, seseorang sedang bekerja dengan notebooknya, juga dengan coffee terbaik, seringkali handphone-pergaulan sosialnya berdering, sambil mengetik dan bekerja, menyeruput coffee, tertawa terbahak di hp-nya, datang lagi kawannya, membaca dokumen yang disodorkan kepadanya, masih tetap sibuk dengan hp-nya, disela dengan memerintahkan sesuatu kepada temannya….. Orang ini multitasking.

Apakah Sekarang Anda Dapat Menduga, Akan Menjadi Apa Orang Yang Fokus Dan Orang Yang Multitasking Ini Dalam Kehidupan Mereka Selanjutnya? Lebih Luas Lagi, Apakah Anda Dapat Menduga, Akan Menjadi Apa Bangsa Yang Fokus Dan Bangsa Yang Multitasking Dalam Percaturan Dunia Abad Ini?

Gabungan dari aktualisasi individu, mewujud dalam aktualisasi bangsa. Jika aktualisasi bangsa kita tinggi, kita akan bergaul dengan bangsa makmur dengan menegakkan kepala. Kita akan dicari, dan kita akan mencari bangsa yang sama tingkat aktualisasinya dengan bangsa kita. Seperti itulah tabiat dunia……………..

22 Feb 2011. Selamat Mencari Sesama Anda. Salam Persaudaraan. Hilal Achmar.

23. METASCIENCE BANTAHAN TERHADAP KEBUTUHAN PADA PSIKOLOGI HUMANISTIK

Kebutuhan menurut metascience adalah, segala yang dibutuhkan dan urgensi adanya bagi tumbuh kembang seorang individu, serta kemajuan peradaban manusia di dunia. Ada 70 syarat yang seharusnya ada, agar terdapat percepatan tumbuh-kembangnya peradaban manusia. 70 syarat ini kita namakan sifat-sifat yang baik, begitu saja. Sifat yang baik ini sebagai berikut:

1. Sifat Pemberi. 2. Sayang. 3. Penguasaan. 4. Kesucian. 5. Selamat. 6. Kedamaian. 7. Penjaga. 8. Mulia. 9. Perkasa. 10. Megah. 11. Mencipta. 12. Kebebasan. 13. Pemaaf. 14. Penolong. 15. Ekonomi. 16. Pembuka. 17. Pengetahuan. 18. Mengembangkan. 19. Mengentaskan. 20. Pemacu. 21. Pendengar. 22. Pelihat. 23. Keadilan. 27. Kehalusan. 25. Kewaspadaan. 26. Penyantun. 27. Keagungan. 28. Penegakan. 29. Kederajatan. 30. Kesadaran. 31. Pemelihara. 32. Kuat. 33. Teliti. 34. Nalar. 35. Pengawasan. 36. Cukup. 37. Pengabulan. 38. Keluasan. 39. Kebijaksanaan. 40. Kecintaan. 41. Kebenaran. 42. Perlindungan. 43. Keterpujian. 44. Perhitungan. 45. Kepemicuan. 46. Pengadaan. 47. Keunikan. 48. Penguasaan. 49. Kepenentuan. 50. Pelopor. 51. Kelogisan. 52. Kemisterian. 53. Keterpeliharaan. 54. Kemurah-hatian. 55. Pengakuan. 56. Pemaaf. 57. Pengasih. 58. Teritorial. 59. Kebesaran. 60. Keadilan. 61. Kolektifitas. 62. Kaya. 63. Sosial. 64. Kemanfaatan. 65. Kepemimpinan. 66. Keindahan. 67. Mewariskan. 68. Kegeniusan. 69. Kesabaran. 70. Pendidik. Setelah mengetik ke 70 syarat sifat-sifat yang baik ini, yang ingin saya katakan adalah:

Semakin Banyak Individu Mempunyai Syarat Sifat Tumbuh Kembang, Semakin Tinggi Individu Akan Teraktualisasi.

Kebalikannya adalah, semakin sedikit individu mempunyai syarat tumbuh kembang dalam dirinya, semakin rendah kualitas aktualisasinya. Akan sulit menjadi pemimpin, apalagi, menyumbang untuk kemajuan peradaban manusia! Pertanyaan saya adalah:

Bagaimanakan Caranya, Agar Manusia Mempunyai 70 Sifat-sifat Baik Tersebut?

Caranya ialah, dengan menggunakan ke 70 sifat itu, kemudian mengimplementasikannya dalam hidup dan kehidupannya! Anda lihatlah berkeliling, mungkin dengan bersepeda dan mengobrol pada orang-orang di pangkalan, atau para pensiunan yang sering berada pada halaman rumah di pagi hari. Kalau anda mendapati, ada individu yang mempunyai banyak sifat-sifat yang baik itu, maka anda dapat menyaksikan:

Orang-orang Yang Mempunyai Banyak Sifat-sifat Yang Baik, Pasti Mempunyai Keberuntungan Yang Besar!

Ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang mempunyai sedikit sifat-sifat yang baik.

Bantahan Saya Terhadap Abraham Maslow:

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan Harga Diri dan Penghargaan Dari Individu lain untuk mencapai aktualisasi.

Menurut Saya: Tidak ada kebutuhan akan harga diri dan penghargaan dari orang lain untuk mencapai aktualisasi. Kalau kita mempunyai syarat 70 sifat baik diatas, cukuplah diri kita sendiri menghargai pencapaian kita, dengan memakai sifat baik No. 8, Sifat Mulia. Anda dan saya sudah mulia kalau mempunyai 70 sifat baik itu!. Dan untuk orang lain yang tidak menghargai kita, kita memakai sifat baik No. 39. Kebijaksanaan dan No. 13. Pemaaf. Dengan menerapkan 70 sifat baik itu, jalan telah terbentang menuju aktualisasi. Beres!.

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan Cinta & Rasa Memiliki-Dimiliki untuk mencapai aktualisasi.

Menurut Saya: Maslow belum berpendapat intinya. Rasa senang memacu aktualisasi. Rasa Benci menghambat aktualisasi. Cinta dan rasa memiliki-dimiliki itu, hanya salah satu dari Rasa Senang. Saya pernah menulis, rasa itu hanya dua: Senang dan Benci. Cinta, bahagia, ceria, terpesona, sayang, rindu, takjub, butuh, bahkan aktualisasi adalah masuk dalam kategori rasa senang. Sedang iri, dengki, sedih, pilu dll, masuk dalam kategori rasa benci. Untuk mencapai aktualisasi, lebih cepat dengan memakai sifat No. 57 Pengasih, daripada mengharapkan cinta dan rasa dimiliki oleh orang lain!.

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan perlindungan dan rasa aman.

Menurut Saya: Tidak ada kebutuhan akan perlindungan dan rasa aman. Tentu, kalau balita dan remaja, saya setuju. Kalau pada fase dewasa, saya kira tidak. Dunia, bukanlah tempat yang aman. Kalau individu tidak mau bekerja, maka tunggulah kehancurannya. Kalau individu merasa ’dilindungi’ dan ’aman’, maka, tunggulah bahaya yang mengancam. Rasa tidak dilindungi, tidak aman, tidak seimbang, adalah baik. Jika individu sering berada dalam keadaan tidak aman, tidak dilindungi, tidak seimbang, misalnya dalam bidang financial, dan bidang lainnya, katakan saja dalam kondisi ’terdesak’ keuangan, maka kemungkinan besar daya-daya potensial yang ada dalam dirinya, akan menjadi energi yang luar biasa besar! Kita dapat menyaksikan bahwa, sebagian besar orang-orang terkaya di dunia, yang bukan karena warisan, pada mulanya adalah individu yang ’terdesak’ secara financial. Justru, rasa tiadanya perlindungan, tiadanya rasa aman dan keterdesakan, akan memacu aktualisasi. Yang saya ingin katakan adalah, bertentangan dengan Maslow yang membutuhkan perlindungan dan rasa aman, saya mengatakan:

Individu Membutuhkan Rasa Tiadanya Perlindungan Dan Rasa Tiadanya Rasa Aman, Untuk Mengaktifkan Energi Potensial Yang Ada Dalam Dirinya!

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan Lingkungan Eksternal Sebagai Pra kondisi bagi pemuasan kebutuhan, ialah kemerdekaan, keadilan, ketertiban, dan stimulasi.

Menurut Saya: Tidak ada kebutuhan akan Lingkungan Eksternal Sebagai Pra kondisi bagi pemuasan kebutuhan, seperti kemerdekaan, keadilan, ketertiban, dan stimulasi. Kalau anda tidak merdeka, anda dapat memakai sifat No. 6. Kedamaian, dan No. 12. Kebebasan. Saya akan ilustrasikan: Nelson Mandella, dia dipenjara, tidak merdeka, tidak diperlakukan dengan adil. Tapi beliau teraktualisasi! Bahkan lebih teraktualisasi dari anda dan saya, yang bebas dan telah diberi keadilan!

Kebebasan Lebih Menunjuk Kepada Ruhani Daripada Jasmani!

Untuk kebutuhan fisiologis, udara, air, makanan, rumah, istirahat dan seks, saya berpendapat sama dengan semua orang.

Menurut saya, Hirarki kebutuhan yang kita bahas ini, lebih sederhana, dan sudah agak lengkap uraiannya tentang 70 sifat yang baik. Dan yang lebih utama adalah mudah di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari menuju aktualisasi, sehingga kita dapat memperoleh Keberuntungan Yang Besar.

22 Feb 2011. Selamat Menempuh Keberuntungan Yang Besar. Salam. Hilal Achmar.

21. METASCIENCE HAK AZASI & KEBEBASAN MANUSIA

Hak azasi manusia singkatnya adalah, hak yang melekat pada individu, sejak dalam kandungan. Contoh Hak Azasi Manusia ada dalam UUD 1945. Sedangkan contoh hak azasi adalah: Hak untuk hidup dan hidup bersama seperti individu lainnya, hak memperoleh perlakuan yang sama, hak mendapatkan pekerjaan dan hak memperoleh pendidikan.

Kebebasan yang dapat dipunyai manusia misalnya: kebebasan berbicara dan berekspresi, tentang apa saja, baik positif maupun negatif, tanpa tindakan sensor, kemudian ditambahkan: dengan syarat tidak menyebarkan kebencian (ini tentu maksudnya, supaya anda tidak bisa mengkritik otoritas kelompok yang menafsirkan kebebasan berbicara dan berekspresi untuk anda fahami!)

Saya sendiri, saat jeda, sering berfikir, apakah kebebasan itu hak yang melekat pada individu, atau diberikan pada individu dengan batasan-batasan tertentu, seperti dicontohkan diatas. Saya menemukan bahwa:

Manusia Bebas Berkehendak Apa Saja Dengan Kebebasan Sebebas-bebasnya!

Misalnya saja, kita ambil contoh kebebasan berbicara, yang dibatasi oleh: 1. Tidak menyebarkan kebencian. 2. Tidak menghasut. 3. Tidak bertendensi membunuh karakter. 4. Tidak menjelek-jelekkan. 5. Tidak dimaksudkan untuk perbuatan yang tidak menyenangkan. 6. Tidak memfitnah…….  kalau batasan ini saya teruskan, bisa menjadi 100 atau seribu batasan. Yang saya ingin katakan adalah:

Kalau Ada Batasan, Maka Tidak Lagi Disebut Kebebasan!

Mengapa manusia berbicara tentang kebebasan? Ya begitulah manusia, selalu mencari keunggulan kerajaan manusia dibanding kerajaan hewan. Padahal, burung lebih bebas dari manusia, sebebas-bebas kehendaknya. Kalau sekelompok burung terbang migrasi dari benua Australia ke benua Amerika, tak perlu urus visa, tak perlu bawa passport, tak pernah juga burung yang mempunyai otoritas mencekal sodaranya sesama burung. Akuilah, manusia, walaupun bisa, tidak pernah berhasil sebebas burung!

Untuk Apa Bebas & Dapat Terbang Seperti Burung, Sedang Kita Punya Kelebihan Yang Sempurna!

Andainyapun individu menjalani prinsip-prinsip kebebasan berkehendak yang sebebas-bebasnya, dia akan berhenti pada satu titik perhentian yang dinamakan tanggungjawab. Sebab sifat manusia selalu ingin sembunyi dari tanggungjawab (lempar batu, sembunyi tangan), maka dibuatlah aturan sekedar yang mampu dicapai akal fikiran. Yang ingin saya katakan adalah:

Tanggungjawab Lebih Penting Dan Lebih Bernilai Dari Kebebasan Itu Sendiri.

Sudahkah Anda Mempertanggungjawabkan Kehendak Yang Telah Anda Laksanakan Hari Ini? Apakah kita lebih baik jeda dahulu (Jawa: Leyeh-leyeh, dengarkan uyon-uyon, sambil menyeruput teh gula batu..?), Atau, kita ke cafe terindah, sambil mendengarkan Moon River, dan menikmati Civet Coffee………. Salam. Hilal Achmar.