XVIII. METASCIENCE TINGKAHLAKU MANUSIA

Pada jalur science yang lain lagi, tingkahlaku manusia dipelajari dari tingkahlaku hewan. Itu karena Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Sekarang, ilmu itu akan membuat anda tersenyum. Pada jalur yang lain lagi, justru penelitian tingkahlaku manusia yang sakitlah yang banyak dipublikasikan. Pada jalur yang lain lagi, penelitinya berusaha mempelajari tingkahlaku manusia yang sehat. Penelitian ini sulit dilakukan.

Tingkahlaku Individu Dengan Penyesuaian Baik.

Singkatnya, individu ini selalu menyesuaikan tingkahlakunya dengan tingkahlaku orang, komunitas, atau masyarakatnya, agar tingkahlakunya sesuai dengan norma, agar ia tidak dianggap aneh apalagi sakit, padahal aneh, dan memang sakit. Saya akan memberikan ilustrasi.

Pada saat antri, orang tertib berdiri, padahal antrian mengular, berapa puluh kali lebih panjang dari ular terpanjang yang pernah ditemukan. Individu dengan penyesuaian tingkahlaku yang baik, akan berdiri terus-menerus dalam antrian, walaupun kakinya pegal bukan alang-kepalang. Kalau anda mengenal saya, saya tidak akan berdiri dalam antrian, saya akan duduk, walaupun di lantai! Apakah dengan duduk, ketika 500 orang orang berdiri dalam antrian, saya bertingkahlaku buruk?

Søren Aabye Kierkegaard, Bapak eksistensialisme, lahir 5 Mei 1813 di Kopenhagen, pasti akan senang sekali dan pasti matanya berbinar-binar, melihat saya duduk santai diantara 500 orang yang berdiri mengantri…… Eksistensialisme, telah menjadi salah satu bagian yang membentuk tingkahlaku saya, sejak saya kelas III SMP. Saya membaca lebih dahulu tentang eksistensialisme, mungkin lebih awal dari mahasiswa baru di fakultas psikologi, yang tidak berlatar belakang ilmu yang meta……….

Muhammad Badrul, seorang asal Sumatra Barat yang menjadi mahasiswa di MIPA pada tahun 80-an di UGM, mengejutkan saya dengan peribahasa asal daerahnya, yang saya akan ilustrasikan dibawah ini:

Jika Dikurung, Kita Di Luar.

Bayangkan anda dan sekelompok orang, dikurung oleh sebuah tali lasso, yang dapat dikencangkan. Ingatlah peribahasa dari Sumbar itu. Anda harus berada diluar! Bagaimanapun caranya. Kalau perlu, sudah berada diluar, ketika kelompok orang yang lain baru sadar mereka sebenarnya telah terkurung tali lasso! Yang saya ingin katakan adalah, kita berada diluar, karena kita ingin bebas dari kesulitan. Kita juga menghormati, kebebasan memilih dari kelompok orang yang terkurung itu. Hanya kita tidak mau mengikuti, dan berpenyesuaian baik terhadap tingkahlaku yang akan merugikan kita itu!

Ketika Dihimpit, Kita Di Atas.

Jika anda lengah, dan telah terkurung, dan tali lasso itu mulai dikencangkan, sehingga mulai menghimpit anda dan semua yang terkurung, anda harus berada di atas! Supaya anda bebas bernafas. Bebas dari segala kesulitan. Anda tidak boleh berpenyesuaian baik, terhadap segala yang merugikan, baik itu terhadap kelompok yang lima M, maling, minum, main judi, main perempuan dan madat narkotika. Atau ideologi yang mengakali manusia, agar manusia menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Atau manusia hipokrit, yang rela dijerat kemiskinan dan kebodohan……..

Yang saya ingin terakan adalah, Local Genius yang kita punyai, tidak kalah dengan Søren Aabye Kierkegaard sebagai Global Genius, dalam menerangkan kebebasan, sebagai substansi Eksistensialisme………

Wahai Muhammad Badrul, yang sudah 23 tahun tidak lagi bertemu dengan saya, dan para penerus local genius, saya berterima kasih kepada anda sekalian. Seperti kebiasaan saya, mungkin post ini diedit lagi…

Salam Lokal Genius! Hilal Achmar.

 

 

Advertisements

XVII. METASCIENCE SANG PEMENANG

Mohon maaf, posting saya memang ditulis dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah penulisan ilmiah. Saya memang tidak dalam tugas menulis buku bukan? Ini adalah posting yang ke 17.

Semua orang mendambakan menjadi Sang Pemenang dalam segala bidang yang digelutinya. Psikologi menyatakan, bahwa manusia dapat berkembang kesegala arah, dengan persiapan yang matang. Untuk dapat berkembang kesegala arah, kita memang harus menuntut diri kita yang keras-keras…………

Kegagalan, seringkali dialami individu yang tidak keras menuntut dirinya.

Saya ingatkan kembali tentang kapasitas yang dipunyai seorang individu dalam pembelajaran, dan kapasitas diri kita sendiri, dalam mencapai kondisi yang kita inginkan. Saya senang main catur, seringkali menjadi juara, baik perseorangan atau beregu, karena saya mengetahui, dibidang caturlah saya dapat menjadi juara!

Anda tidak perlu bertarung di ring tinju untuk menjadi juara.

Tapi, anda harus bertarung dibidang lainnya, yang memungkinkan anda menjadi juara! Sampai berusia 30 tahun, saya masih bertarung untuk mendapatkan gelar juara catur, terlebih lagi untuk memperkokoh sisi psikologis saya.

Bapak saya menjuluki saya Si Kura-kura. Siapa binatang tercerdik dalam fabel Indonesia? Kancil? Salah. Yang tercerdik adalah kura-kura. Dalam seluruh Fabel tentang Kancil, hanya kura-kura yang dapat menandingi kecerdikan kancil. Inilah kisahnya:

Kancil yang langsing dan cepat, menantang kura-kura untuk balapan lari. Kura-kura setuju. Esok harinya, pertandingan diselenggarakan. Kura-kura berkata pada kancil di garis start, bahwa ia akan berlari di balik semak, karena malu, dirinya sangat lambat (dasar lelet!). Kancil setuju, karena pasti menang! Padahal, banyak kura-kura telah berbaris dari garis start sampai finish. Ketika pertandingan dimulai, kancil lari sekuat tenaga, tapi kura-kura itu selalu muncul didepannya, untuk masuk kembali ke semak. Sampai 10 langkah kancil mendekati finish, keluarlah kura-kura yang berada dibaris  terdepan, 2 langkah dari garis finish. Satu langkah, dua langkah, maka kura-kura melewati garis finish lebih dahulu dari kancil. Kura-kuralah Sang Pemenang. Yang saya ingin katakan adalah:

Untuk menang, Selain Visi dan Misi, Anda Harus Ahli Taktik & Ahli Strategi. Pertarungan Sebenarnya Adalah Pertarungan antara Taktik & Strategi. Itulah Yang Akan Mengantarkan Anda Menjadi  Sang Pemenang.

Salam Strategi. Hilal Achmar

 

 

 

XV. METASCIENCE PENDIDIKAN

Pendidikan yang saya jalani di sekolah/universitas adalah pendidikan science, karena saya selalu memilih bidang eksakta. Yang akan saya titik beratkan, adalah sistem pembelajaran yang efektif dan efisien untuk Global Science, baik itu science maupun metascience. Berikut, akan saya bahas satu demi satu.

1. Belajar Bersendirian Atau Berduaan.

Pada saat saya masih di SD, saya meminta Bapak saya untuk mengajari saya global science, ialah science & metascience, setiap jam 3.00 pagi sampai waktu subuh tiba. Dalam waktu lama, beliau membimbing saya dalam science dan metascience. Beliau ‘mengkloning’ ilmunya kepada diri saya. Waktu SMP, beliau menyediakan buku-bukunya untuk saya baca, dengan cara, meletakkannya di meja ruang tamu, atau meja makan. Pada waktu SMP, saya telah membaca ratusan buku, ratusan novel, dan mulai mengerti dasar-dasar metascience. Yang saya ingin katakan adalah, belajar bersendirian atau paling banyak berduaan, memberi kesempatan kepada pendidik/guru dalam mengkloning pengetahuannya kepada muridnya. Puluhan guru dan dosen saya, tidak pernah berhasil mengkloning banyak pengetahuannya kepada saya, sebanyak Bapak saya mengkloning pengetahuannya kepada saya. Anda pasti setuju. Bukankah Bapak saya menyediakan ratusan buku pilihannya untuk ditransfer dan mengkloningnya pada dada saya?

2. Bertanya Adalah Separuh Ilmu Pengetahuan.

Berkaitan dengan no 1. diatas, belajar bersendirian menyebabkan saya bertanya-tanya secara bebas lepas, tanpa takut ditertawakan, dan menghilangkan sifat hipokritis dalam diri saya. Kalau saya bertanya, dimana sebenarnya Tuhan berada? Dimana Tuhan berada itu sudah separuh pengetahuan, separuhnya lagi, saya sudah mengetahui adanya Tuhan. Itu maksudnya……..

3. Belajar Dengan Pendidik Yang Mengetahui Benar Kapasitas Kita.

Pada waktu kuliah dulu, kelas saya bisa dipenuhi oleh 100-150 orang, dengan satu dosen. Apakah dosen itu mengetahui kapasitas keilmuan masing-masing mahasiswanya? Saya kira pasti tidak, paling hanya mengetahui satu atau dua kapasitas mahasiswanya yang menonjol. Anda fikir ini efektif? Pasti tidak. Saya akan mengilustrasikan, bagaimana belajar berduaan, mencapai hasil yang efisien dan efektif. Pada waktu saya tingkat I atau II di UGM, saya tinggal di Sosrokusuman,  tepat di belakang Yogya Mall. Didepan rumah saya, ada hotel kecil, namanya Hotel Intan. Ada seorang pengayuh becak, namanya Tri, masih muda, sekitar 18 tahunan, sering mangkal di depan hotel itu menunggu penumpang. Pada saat dia menunggu, saya mendekatinya, dan mentriggernya untuk belajar bahasa inggris, saya katakan, dia nanti bisa menjadi guide. Kemudian, sambil menunggu, dia belajar bahasa inggris. Saya selalu mencarinya di depan hotel itu, untuk menyemangatinya. Kemudian dia menjadi guide. Tidak ada setahun, dia telah melanglang ke Paris, Perancis, diajak oleh seorang turis wanita. Dia diajak menikah disana…………………… ……………….Saya mengetahui benar kapasitas yang dipunyai Tri….………………

Selamat Mendidik. Salam. Hilal Achmar.

XIV. METASCIENCE INSTANTA & FOKUS

Antara tahun 80 sampai 90-an, bagi teman-teman yang mengenal saya pada dekade itu, saya mengatakan, Amerika Serikat akan bangkrut. Dunia akan bangkrut, jika kebanyakan manusia tidak lagi fokus pada ilmu-ilmu dasar, lebih fokus pada ilmu praktis. Pada saat saya lulus saat ujian pendadaran, profesor saya berpesan kepada saya, agar saya membaca juga buku ilmu-ilmu praktis. Kemungkinannya: 1. Beliau takut, saya akan menekuni ilmu-ilmu dasar, berhenti pada ilmu dasar, dan tidak memaksimalkan kapasitas yang saya miliki. 2. Beliau takut, saya tidak kebagian mendapatkan harta benda dunia dengan menekuni ilmu-ilmu dasar saja. Yang manapun dari keduanya, beliau benar!

Instanta.

Segalanya sekarang serba instant. Anda mengetahuinya. Dari makanan, pakaian, rumah, pendidikan, apa saja, yang serba instant yang diminati. Mengapa begini, mengapa begitu, tidak lagi diminati. Maksud saya, pembahasan yang lebih detail akan masalah/pekerjaan/pendidikan tidak diminati lagi. Saya fikir, Yogya sebagai gudang ilmu, oleh karena itu, dahulu saya menuntut ilmu disana, saya kira hari ini berkurang peminatnya, dan akan berkurang terus peminatnya. Kedepan, Yogya tidak lagi akan menjadi Kota Pendidikan. Alih-alih dari Yogya akan mengubah dunia, malah Yogya dalam proses dirubah dunia!

Realitas Lampau

Siapa mau peduli kota kelahiran leluhur saya itu? Saya katakan, secara metascience, kita tidak dapat menolong Yogya mencapai kejayaannya kembali sebagai Kota Pendidikan, seberapa keras pun usaha anda. Sebabnya adalah: Yogya sebagai kota pendidikan, adalah realitas lampau. Lebih mudah, Yogya dibawa pada realitas kini, bahwa, ada kerajaan dalam negara republik, atau, realitas kini apapun, yang anda fikir dapat diimplementasikan untuk Yogya. Pendirian Universitas dan Pendidikan instant di Indonesia itulah penyebab Yogya kehilangan pamornya sebagai kota pendidikan. Hasil pendidikan tidak bisa instant. Jika para Guru Besar, Doktor dan Dosen di Yogyakarta, masih fokus mengajarkan ilmu-ilmu dasar, berdampingan dengan ilmu praktis, hasilnya akan dipetik beberapa tahun kedepan, seperti kita memetik hasil, di daerah manapun kita belajar ilmu-ilmu dasar yang kuat.

Hasil Pendidikan Ilmu-ilmu Dasar Yang Kuat.

Universitas Indonesia memantau dan memanggil pulang alumninya yang pernah belajar ilmu dasar di UI, untuk menularkan pada mahasiswa adik-adik kelasnya. Apakah UGM memantau dan pernah memanggil pulang alumninya? Yang saya akan katakan adalah:

Ada banyak realitas dan kebenaran pada individu lain selain yang kita yakini. Kebenaran tidak hanya satu. Dalam persoalan makan siang dimana hari ini, saya punya 3 kebenaran. Anda mungkin punya 5…….

Waktunya makan siang. Salam. Hilal Achmar.

 

XII. METASCIENCE PERADABAN

Untuk metascience peradaban manusia, saya akan mengambil contoh masyarakat dan peradabannya, pada saat Candi Borobudur dibangun, oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra, pada tahun 778 – 856 M, sekitar 1233 tahun yang lalu.

Peradaban, akan saya persempit menjadi kesehatsejahteraan. Saya ingin bertanya kepada anda, terutama, anda yang berasal dari sekitar Candi Borobudur, Magelang, Muntilan, Sleman, Yogyakarta, Klaten, Solo, Ambarawa, Ungaran. Dari segi apa anda lebih sehatsejahtera dibanding individu yang ada dalam peradaban 1233 tahun yang lalu itu? Keturunan keatas saya juga dari Yogyakarta, jadi saya ikut jawab saja: Saya tidak lebih sehatsejahtera dari mereka. Andapun demikian.

Kalau mereka dihidupkan kembali hari ini disekitar Candi Borobudur dengan setting rumah, jalan dan kondisi lingkungan seperti tahun 778 M, mereka akan katakan, kita lebih sehatsejahtera, mempunyai peradaban yang lebih tinggi. Mungkin, penilaian itu hanya karena kita bisa mengoperasikan handphone!

Yang ingin saya katakan adalah, mereka dulu juga merasa sehatsejahtera, seperti anda merasa sehatsejahtera hari ini! Kondisi mereka pada saat candi selesai dibangun adalah: mereka takjub akan hasil karya mereka, mereka cepat teraktualisasi. Rasa bangga, keadaan ekstasi, tinggi, kesadaran yang meningkat, merasa mampu, merasa dapat berkembang kesegala arah, pendeknya, mereka teraktualisasi sedemikian hebat… Kesultanan Yogya adalah aktualisasi masyarakat dan individunya, yang dapat kita saksikan sampai kini.

Dibanding mereka, kita, kini, apa yang membuat kita teraktualisasi, sehingga, kita teraktualisasi lebih tinggi derajatnya dari mereka?

Keadilan dalam rasa kesehatsejahteraan, diberikan merata bagi seluruh umat manusia, baik yang telah lama berlalu, maupun kini. Peradaban kita hari ini, bukan peradaban yang paling tinggi. 1.000 tahun lagi, peradaban akan jauh meninggalkan peradaban kini. Walaupun demikian, kita merasa paling sehatsejahtera dari segala umat yang lalu.

Individu-individu yang membangun Borobudur telah mengubah dunia, dengan menambah satu keajaiban dunia, sehingga ada tujuh keajaiban dunia yang membuat dunia lebih cantik.

Menurut saya, Zaman Batu belum berakhir, karena batunya masih banyak. Menurut seseorang, zaman batu telah berakhir, dia katakan juga, bukan karena batunya habis! Menurut mereka yang hidup 5.000 tahun lagi, pada tahun 2011, masih termasuk kebudayaan batu!

Saya masih melihat zaman batu pada masyarakat. Dulu mereka pergi ke Candi batu Borobudur yang besar, sekarang pergi ke mall……

Generasi Indonesia Kini: Alih-alih merubah dunia, saya saksikan satu-persatu dirubah dunia……..

Salam Sehatsejahtera. Hilal Achmar.

XI. METASCIENCE: NEAR DEATH EXPERIENCE

Near Death Experience, dalam metascience, mudahnya saja kita definisikan: Pengalaman nyaris, atau mati sesaat. Pengalaman nyaris mati ini kita bagi dua saja. 1. Situasi nyata, dimana seseorang lolos dari maut, yang nyaris merenggut jiwanya. 2. Situasi khayal, dimana seseorang merasa nyaris mati, dalam tempo beberapa detik, atau jam, atau hari kedepan. Pengalaman mati sesaat/suri, kalau anda tertarik saja kita bahas.

Situasi khayal, dimana seseorang merasa nyaris mati, dalam tempo beberapa detik, atau jam, atau hari kedepan.

Pengalaman nyaris mati yang No.1 diatas, tidak saya bahas. Akan saya bahas yang No.2. Situasi khayal, dimana seseorang merasa nyaris mati, dalam tempo beberapa detik, atau jam, atau hari kedepan. Ini kita bagi dua lagi saja. a). Pengalaman Nyaris Mati Yang Menyenangkan dan b). Pengalaman Nyaris Mati Yang Menakutkan. Kita akan membahas yang b).

b). Pengalaman Nyaris Mati Yang Menakutkan.

Kasus pengalaman nyaris mati yang menakutkan, sering diawali individu dengan tindakan: 1. Menarik diri dari pergaulan. 2. Mengurung diri. 3. Rasa takut yang sangat. 4. Tidak dapat berfikir. 5. Tidak berpengharapan. 6. Dada merasa sempit sesak, seperti mendapat beban berat. Dan 7. Merasa akan mati dalam beberapa detik kedepan. Mengenai Near Death Experience yang science, anda dapat membacanya dalam buku yang banyak dipublikasikan atau media online seperti pada: http://en.wikipedia.org/wiki/Near-death_studies.

Sebuah Pesan.

Sekarang, dalam tradisi keluarga saya dan adik-adik saya, kami mengetahui, bahwa pengalaman nyaris mati yang menakutkan, dapat menimpa setiap orang. Bagi kami, masalah itu adalah pesan dari Sumber Kehidupan. Agar kita mendekat kepada-Nya. Segala gejala klinis individu yang dalam keadaan ketakutan yang sangat, karena merasa nyaris mati, hilang dengan sendirinya, jika individu tersebut, mendekat kepada Tuhannya, dan berusaha menapaki jalan-Nya. Yang lebih penting adalah, bagaimana individu menghindari mendapat pengalaman nyaris mati yang menakutkan ini.

Sesiapa yang tidak mau mengikuti jalan Tuhan-Nya, dadanya akan terasa sempit. Seorang individu, yang mempunyai karir yang bagus, mengatakan pada saya, bahwa dia seorang atheis. Kalau dia meneruskan fahamnya itu, sekarang, saya dan anda dapat menentukan, bahwa dia akan/sudah menemui penghidupan yang sulit, dan akan/sudah mengalami pengalaman nyaris mati yang menakutkan…………..

Tidak selamanya kita mempunyai daya untuk mencegah keburukan.

Salam. Hilal Achmar