26. METASCIENCE PEMERINTAHAN

Pemerintah yang ‘seharusnya’ ada dalam negara-negara di dunia adalah, sekelompok orang, yang mempunyai kapasitas sebagai negarawan, yang mendapat legalitas dari bangsanya. Contoh negarawan dari Indonesia adalah Sang Maha Patih Gajah Mada, dari kerajaan Majapahit (Girindra Wardhana), yang bercita-cita menyatukan Nusantara, dan tidak akan memakan palapa sebelum cita-citanya terwujud. Negarawan dapat kita artikan saja, ialah manusia yang mempunyai banyak ilmu yang berguna, baik bagi dirinya maupun yang lainnya, dan terampil bekerja dengan ilmu yang dimilikinya, visioner, dipercaya, sehingga bangsanya mau mewujudkan visi masa depan yang diperlihatkannya.

Visi Pemerintah yang seharusnya ada adalah: Kita Akan Sejajar Dengan Negara-negara Makmur / kaya. Jika demikian maka Misi Pemerintah adalah memberdayakan rakyatnya dalam segala bidang, sehingga dapat duduk sejajar dengan negara-negara makmur. Bagaimana misi ini dicapai? Dengan membuat individunya otaknya pintar, badannya sehat, dan sakunya penuh. Tiga saja dulu, saya kira cukup.

1. Membuat Individu/Rakyatnya Berotak Pintarcerdik.

Strateginya adalah: Rupanya harus ada menteri/Kementrian Urusan Globalisasi dulu! Globalisasi adalah: Individu/Rakyat di suatu negara, saling bersaing dengan Individu/Rakyat dari negara lainnya. Misalnya, seorang dokter di Indonesia, harus bersaing dengan dokter lainnya di….. seluruh dunia… (Wah…. beratnya…….. ). Juga seorang petani kedele, harus bersaing dengan petani kedele dari seluruh dunia, misalnya dari hasil panen per hektar, kecerahan warna kedelai, kandungan proteinnya dan sebagainya. Memang berat. Tapi kita senang kan ada era globalisasi! Senang ada era globalisasi, tanggungjawabnya adalah harus juga senang bersaing, kalau tidak, kita akan jadi bangsa pinggiran atau orang pinggiran. Kapan-kapan, anda yang pandai globalisasi, usul pada presiden, agar anda jadi mentri globalisasi. Malah banyak kerjaannya: Iklim Global yang menggagalkan banyak panen, baik padi maupun mangga, migrasi global, perdagangan global, supaya tidak diakali terus oleh bangsa-bangsa yang pintar………………………….

Membuat individu pintar, tidak ada cara lain, selain dengan pendidikan. Pendidikan juga harus dipilih yang mempunyai realitas baru, bukan realitas lama, yang lambat menghasilkan kemajuan bangsa.

Realitas Baru Vs. Realitas Lama Dalam Pendidikan

Realitas Baru dalam pendidikan adalah: Pendidikan yang mengacu pada pendidikan apa yang dibutuhkan dalam memberdayakan masyarakat, supaya sejajar dalam persaingan kemakmuran, kewibawaan, dan kecerdikan antar bangsa-bangsa di dunia. Kita punya tanah dan laut. Pasti dalam bidang itu kita unggul, karena kita punya sumberdaya yang melimpah (tanah dan laut yang luas). Karena penduduk dunia bertambah terus, dan karena iklim global, jangan-jangan teori Robert Malthus (1766-1834), yang dianggap ‘salah’, menjadi benar karena ‘kebetulan’. Malthus mengatakan bahwa populasi manusia berkembang lebih cepat, sedangkan persedian makanan berproduksi lebih lambat. Benar atau salah, tidak kita persoalkan, yang ingin dikatakan Malthus adalah: 1. Dia khawatir, manusia kekurangan makanan. 2. Penduduk dunia harus diberi makan!

Indonesia pernah gagal menuju negara industri, dengan tujuan pembangunan jangka panjang, bahwa kita akan dapat menghasilkan mesin yang memproduksi mesin. Pada era industri, memang, bekerja dalam bidang pertanian dan kelautan adalah realitas lama, yang sulit untuk maju seiring dengan negara-negara industri. Makanya, tahun 70-an sampai akhir 90-an, kita bercita-cita maju seiring dengan bekerja dalam bidang industri.

Sekarang telah era informasi. Realitas lama pertanian, kini menjadi realitas baru dalam era informasi dan globalisasi, dimana, mudahnya, negara-negara maju yang telah meninggalkan basis pertaniannya, (maksudnya, rakyatnya tidak mau lagi bertani!), adalah keuntungan yang ‘kebetulan’ bagi kita, bahwa kita punya tanah dan laut yang terus ada.

Yang saya ingin katakan adalah:

Realitas lama, dapat menjadi realitas baru yang menguntungkan. Inilah tugas para pendidik, memberikan realitas baru, memperbaharui realitas lama yang dianggap usang, dan memberikan alasannya.

2. Membuat Individu/Rakyatnya Berbadan Sehat.

Sudah ada Kementeriannya, undang-undangnya, peraturan pemerintahnya dan peraturan menterinya, juga sudah ada peraturan daerahnya. Saya tidak bahas. Mungkin nanti tentang Metasscience kesehatan.

3. Membuat Individu/Rakyatnya Bersaku Penuhtebal.

Dengan penyediaan lapangan pekerjaan. Jika rakyat rajin bekerja dan tersedia banyak lapangan pekerjaan, ini urusan Departemen Tenaga Kerja & Badan Koordinasi Penenaman Modal, maka rakyat akan berkantung penuhtebal. Ya, minimal satu bulan sekali……………….Tidak saya bahas. Mungkin nanti akan saya tentang Metascience Kekayaan.

24 Feb 11. Selamat Berotak Pintar, Berbadan Sehat dan Besaku Tebal.  Salam. Hilal Achmar.

Advertisements

21. METASCIENCE HAK AZASI & KEBEBASAN MANUSIA

Hak azasi manusia singkatnya adalah, hak yang melekat pada individu, sejak dalam kandungan. Contoh Hak Azasi Manusia ada dalam UUD 1945. Sedangkan contoh hak azasi adalah: Hak untuk hidup dan hidup bersama seperti individu lainnya, hak memperoleh perlakuan yang sama, hak mendapatkan pekerjaan dan hak memperoleh pendidikan.

Kebebasan yang dapat dipunyai manusia misalnya: kebebasan berbicara dan berekspresi, tentang apa saja, baik positif maupun negatif, tanpa tindakan sensor, kemudian ditambahkan: dengan syarat tidak menyebarkan kebencian (ini tentu maksudnya, supaya anda tidak bisa mengkritik otoritas kelompok yang menafsirkan kebebasan berbicara dan berekspresi untuk anda fahami!)

Saya sendiri, saat jeda, sering berfikir, apakah kebebasan itu hak yang melekat pada individu, atau diberikan pada individu dengan batasan-batasan tertentu, seperti dicontohkan diatas. Saya menemukan bahwa:

Manusia Bebas Berkehendak Apa Saja Dengan Kebebasan Sebebas-bebasnya!

Misalnya saja, kita ambil contoh kebebasan berbicara, yang dibatasi oleh: 1. Tidak menyebarkan kebencian. 2. Tidak menghasut. 3. Tidak bertendensi membunuh karakter. 4. Tidak menjelek-jelekkan. 5. Tidak dimaksudkan untuk perbuatan yang tidak menyenangkan. 6. Tidak memfitnah…….  kalau batasan ini saya teruskan, bisa menjadi 100 atau seribu batasan. Yang saya ingin katakan adalah:

Kalau Ada Batasan, Maka Tidak Lagi Disebut Kebebasan!

Mengapa manusia berbicara tentang kebebasan? Ya begitulah manusia, selalu mencari keunggulan kerajaan manusia dibanding kerajaan hewan. Padahal, burung lebih bebas dari manusia, sebebas-bebas kehendaknya. Kalau sekelompok burung terbang migrasi dari benua Australia ke benua Amerika, tak perlu urus visa, tak perlu bawa passport, tak pernah juga burung yang mempunyai otoritas mencekal sodaranya sesama burung. Akuilah, manusia, walaupun bisa, tidak pernah berhasil sebebas burung!

Untuk Apa Bebas & Dapat Terbang Seperti Burung, Sedang Kita Punya Kelebihan Yang Sempurna!

Andainyapun individu menjalani prinsip-prinsip kebebasan berkehendak yang sebebas-bebasnya, dia akan berhenti pada satu titik perhentian yang dinamakan tanggungjawab. Sebab sifat manusia selalu ingin sembunyi dari tanggungjawab (lempar batu, sembunyi tangan), maka dibuatlah aturan sekedar yang mampu dicapai akal fikiran. Yang ingin saya katakan adalah:

Tanggungjawab Lebih Penting Dan Lebih Bernilai Dari Kebebasan Itu Sendiri.

Sudahkah Anda Mempertanggungjawabkan Kehendak Yang Telah Anda Laksanakan Hari Ini? Apakah kita lebih baik jeda dahulu (Jawa: Leyeh-leyeh, dengarkan uyon-uyon, sambil menyeruput teh gula batu..?), Atau, kita ke cafe terindah, sambil mendengarkan Moon River, dan menikmati Civet Coffee………. Salam. Hilal Achmar.

 


XIX. METASCIENCE: SUMBER PENGETAHUAN

Sumber pengetahuan Metascience berasal dari: 1. pancaindera jasmani, 2. berita yang benar, 3. pancaindera ruhani, 4. logika, 5. akalnalar, 6. intuisi, 7. Mimpi yang benar, dan 8. wahyu. Baiklah akan kita bahas satu persatu. Saya memberikan terminologi baru tentang klasifikasi intuisi, saya juga menambahkan terminologi mimpi yang benar sebagai sumber pengetahuan. Sebelum ini, science dengan tradisi barat tidak pernah menambahkan mimpi sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Kalau pada era 2.000-an anda memotret, kamera anda berisi film celluloid didalamnya.  Sekarang, anda memotret dengan kamera digital, yang tidak ada lagi film celluloid didalam kamera anda. Kalau pada era 2000-an, ada tulisan mengenai kamera digital tanpa film, apakah kira-kira anda percaya begitu saja? Ternyata ada dua kebenaran dalam memotret, ialah dengan film celluloid dan dengan digital equipment! Yang saya akan katakan adalah, ada dua (jika anda sudah punya satu) kebenaran dalam global science, baik itu science maupun metascience. Kemudian, ada 2, atau 3, atau berapapun kebenaran dalam metascience. Banyak kebenaran itulah yang akan kita rujuk, untuk menjadi kebenaran yang kita yakini, hasil proses akalnalar, yang pastibenarnya. Yang saya ingin katakan adalah, saya akan buktikan jika anda berkenan, bahwa mimpi juga dapat sebagai sumber pengetahuan, seperti kamera digital sebagai sumber hasil foto anda. Mari kita kembali ke bahasan awal. No.1 sampai 3, tidak akan saya bahas, jika anda tidak menginginkan.

1. Pancaindera Jasmani: Perasa (Lidah), Pelihat (mata), Pembau (Hidung), Peraba (Kulit) dan Pendengar (Telinga). Pancaindera Jasmani, belum dapat dipercaya dalam menilai hasil explorasinya. Kalau anda melihat seseorang mengayuh sepeda tua, atau mengendarai mobil mewah, apakah ‘pasti’, pengayuh sepedan tua lebih miskin dari pengendara mobil mewah? Pancaindera Jasmani, tidak bisa memperoleh ‘kebenaran yang pastibenarnya’ dari info yang diinputnya. Informasi harus diolah lagi.

2. Berita Yang Benar yang berasal dari: a. Otoritas Absolut. b. Otoritas Kitab Suci. c. Otoritas Pembawa Agama. d. Otoritas yang berkompeten terpercaya. e. Konsensus Ilmuwan. f. Berita yang disaksikan banyak orang.

3. Pancaindera Ruhani: Estimasi, representasi, imajinasi, rekoleksi, retensi, dan bersitan/lintasan hati.

4. Logika: Logika, sifat inherent normanya adalah netral. Logika tidak dipengaruhi oleh norma moral, agama, hukum, dan segala norma apapun yang ada pada diri anda. 1+1=2, hasilnya dua tersebut adalah bebas dari segala norma. Ketika saya masih kuliah dahulu, ada sebuah diskusi yang salah satu themanya tentang: lebih tinggi manakah kedudukan antara logika dan intuisi sebagai sumber pengetahuan?. Semua yang hadir menjawab intuisi. Saya sendiri yang menjawab lebih tinggi logika! Kesimpulan diskusi adalah: Intuisi lebih tinggi dari logika! Saat itu mereka kira-kira,  mengambil referensi dari pengalaman spiritual Einstein, bahwa intuisilah yang menuntun Einstein menemukan teori relativitasnya yang cemerlang. Saya mengerti kisah itu, tetapi saya tetap mengatakan, bahwa logika lebih tinggi. Sampai sekarang, di universitas di Indonesia masih mengajarkan bahwa, intuisi lebih tinggi dari logika. Karena themanya adalah: lebih tinggi manakah kedudukan antara logika dan intuisi, saya jawab logika. Itu jawaban yang saya tahu akan ditolak, walaupun saya memberi paparan. Pada saat diskusi itu terjadi pada era 80-an, saya mengetahui, bahwa: Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi, diantara logika dan intuisi. Keduanya berkedudukan sama sebagai ilmu pengetahuan. Dan yang lebih penting bagi kesadaran saya adalah:

Kadangkala logika mengungguli intuisi, kadangkala intuisi mengungguli logika, dalam mencapai kebenaran yang pastibenarnya.

5. Akalnalar: Manusia yang telah teraktualitas, menggunakan akalnalarnya untuk mencapai kebenaran yang pastibenarnya. Kebenaran yang pastibenarnya ini didapatkan dari olahfikir akalbudi-akalnalar, yang dipanjatkan semata untuk mencari kebenaran yang pastibenarnya, bukan kebenaran yang mungkinbenarnya. Kebenaran yang mungkinbenarnya, tidak berdayaguna mengembangkan dan meningkatkan kapasitas manusia secara general, dalam mendaki kualitas tertinggi kemanusiaannya. Baiknya sekarang saya akan memberikan ilustrasi sederhana:

Namanya XX. Seorang yang belum bekerja dan belum berpenghasilan, setelah ‘melihat & mendengar’ banyak kunci apa saja yang hilang, ‘menyadari’, bahwa ia ‘mungkin’ dapat memecahkan masalah ekonominya dengan menjadi ahli duplikat kunci. Setelah belajar dan membeli peralatan, ia kemudian membuka satu kios dan sukses membuka beberapa kios lainnya di lain tempat. Masalah ekonomi XX selesai, ia tangguh, sulit disaingi. XX menggunakan logika dan akalnalar untuk memecahkan masalah ekonominya.

Namanya YY. Seorang yang belum bekerja dan belum berpenghasilan, setelah ‘melihat & mendengar’ banyak kunci apa saja yang hilang, ‘menyadari’, bahwa ia ‘mungkin’ dapat memecahkan masalah ekonominya dengan membuat duplikat kunci, untuk mencuri. Setelah menduplikat kunci rumah orang, ia sukses juga membobol beberapa rumah orang. Masalah ekonominya selesai, ia licin, sulit ditangkap. YY hanya menggunakan logika  untuk memecahkan masalah ekonominya. Ilustrasi ini telah umum diketahui, tetapi harap dicatat, ini bukan pendapat saya. Pendapat saya, adalah pendapat baru, yang tidak umum diketahui: YY juga telah menggunakan akalnalarnya! Saya akan buktikan dibawah ini, dalam pembahasan tentang intuisi.

6. Intuisi: Saya akan membahas terminologi baru tentang klasifikasi intuisi. Intuisilah yang bekerja, sehingga XX dan YY ‘menyadari’, bahwa mereka dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan ekonominya, dengan tindakan yang berhubungan dengan kunci. Setelah menggunakan logika, XX menemukan dua kebenaran: menjadi pencuri atau bekerja sebagai ahli duplikat kunci. Dengan menggunakan akalbudi-akalnalarnya, akalnalarnya dipanjatkan melintasi ruang-waktu, yang kemudian memantapkan pilihannya untuk bekerja sebagai ahli kunci, daripada ahli mencuri. Ini adalah contoh intuisi yang pastibenarnya, yang dalam mencarinya, akalnalarnya tidak teresonansi dengan ‘kebenaran yang pasti salahnya’.

Setelah menggunakan logika, YY menemukan dua kebenaran: menjadi pencuri atau bekerja sebagai ahli duplikat kunci. Dengan menggunakan akalbudi-akalnalarnya, akalnalarnya dipanjatkan melintasi ruang-waktu, yang kemudian memantapkan pilihannya untuk menjadi ahli mencuri, daripada bekerja sebagai ahli kunci. Ini adalah contoh intuisi kebenaran yang pastisalahnya, karena akal nalarnya teresonansi, sehingga tidak mencapai kebenaran yang pastibenarnya. Resonansi dan mimpi yang benar, yang menghasilkan individu memilih kebenaran yang pasti salahnya, akan saya bahas, jika anda menginginkannya.

7. Mimpi Yang Benar: Paling tinggi kedudukannya sebagai salah satu sumber metascience.Ini salah satu pendapat baru saya dalam metascience. Saya akan membuktikannya jika anda berkenan. Jika anda ingin menguasai metascience, sering-seringlah bermimpi. 8. Wahyu. Tidak saya bahas.

16 Feb 2001. 10.02 WIB

Selamat Bermimpi. Salam. Hilal Achmar.


XVIII. METASCIENCE TINGKAHLAKU MANUSIA

Pada jalur science yang lain lagi, tingkahlaku manusia dipelajari dari tingkahlaku hewan. Itu karena Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Sekarang, ilmu itu akan membuat anda tersenyum. Pada jalur yang lain lagi, justru penelitian tingkahlaku manusia yang sakitlah yang banyak dipublikasikan. Pada jalur yang lain lagi, penelitinya berusaha mempelajari tingkahlaku manusia yang sehat. Penelitian ini sulit dilakukan.

Tingkahlaku Individu Dengan Penyesuaian Baik.

Singkatnya, individu ini selalu menyesuaikan tingkahlakunya dengan tingkahlaku orang, komunitas, atau masyarakatnya, agar tingkahlakunya sesuai dengan norma, agar ia tidak dianggap aneh apalagi sakit, padahal aneh, dan memang sakit. Saya akan memberikan ilustrasi.

Pada saat antri, orang tertib berdiri, padahal antrian mengular, berapa puluh kali lebih panjang dari ular terpanjang yang pernah ditemukan. Individu dengan penyesuaian tingkahlaku yang baik, akan berdiri terus-menerus dalam antrian, walaupun kakinya pegal bukan alang-kepalang. Kalau anda mengenal saya, saya tidak akan berdiri dalam antrian, saya akan duduk, walaupun di lantai! Apakah dengan duduk, ketika 500 orang orang berdiri dalam antrian, saya bertingkahlaku buruk?

Søren Aabye Kierkegaard, Bapak eksistensialisme, lahir 5 Mei 1813 di Kopenhagen, pasti akan senang sekali dan pasti matanya berbinar-binar, melihat saya duduk santai diantara 500 orang yang berdiri mengantri…… Eksistensialisme, telah menjadi salah satu bagian yang membentuk tingkahlaku saya, sejak saya kelas III SMP. Saya membaca lebih dahulu tentang eksistensialisme, mungkin lebih awal dari mahasiswa baru di fakultas psikologi, yang tidak berlatar belakang ilmu yang meta……….

Muhammad Badrul, seorang asal Sumatra Barat yang menjadi mahasiswa di MIPA pada tahun 80-an di UGM, mengejutkan saya dengan peribahasa asal daerahnya, yang saya akan ilustrasikan dibawah ini:

Jika Dikurung, Kita Di Luar.

Bayangkan anda dan sekelompok orang, dikurung oleh sebuah tali lasso, yang dapat dikencangkan. Ingatlah peribahasa dari Sumbar itu. Anda harus berada diluar! Bagaimanapun caranya. Kalau perlu, sudah berada diluar, ketika kelompok orang yang lain baru sadar mereka sebenarnya telah terkurung tali lasso! Yang saya ingin katakan adalah, kita berada diluar, karena kita ingin bebas dari kesulitan. Kita juga menghormati, kebebasan memilih dari kelompok orang yang terkurung itu. Hanya kita tidak mau mengikuti, dan berpenyesuaian baik terhadap tingkahlaku yang akan merugikan kita itu!

Ketika Dihimpit, Kita Di Atas.

Jika anda lengah, dan telah terkurung, dan tali lasso itu mulai dikencangkan, sehingga mulai menghimpit anda dan semua yang terkurung, anda harus berada di atas! Supaya anda bebas bernafas. Bebas dari segala kesulitan. Anda tidak boleh berpenyesuaian baik, terhadap segala yang merugikan, baik itu terhadap kelompok yang lima M, maling, minum, main judi, main perempuan dan madat narkotika. Atau ideologi yang mengakali manusia, agar manusia menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Atau manusia hipokrit, yang rela dijerat kemiskinan dan kebodohan……..

Yang saya ingin terakan adalah, Local Genius yang kita punyai, tidak kalah dengan Søren Aabye Kierkegaard sebagai Global Genius, dalam menerangkan kebebasan, sebagai substansi Eksistensialisme………

Wahai Muhammad Badrul, yang sudah 23 tahun tidak lagi bertemu dengan saya, dan para penerus local genius, saya berterima kasih kepada anda sekalian. Seperti kebiasaan saya, mungkin post ini diedit lagi…

Salam Lokal Genius! Hilal Achmar.

 

 

XIV. METASCIENCE INSTANTA & FOKUS

Antara tahun 80 sampai 90-an, bagi teman-teman yang mengenal saya pada dekade itu, saya mengatakan, Amerika Serikat akan bangkrut. Dunia akan bangkrut, jika kebanyakan manusia tidak lagi fokus pada ilmu-ilmu dasar, lebih fokus pada ilmu praktis. Pada saat saya lulus saat ujian pendadaran, profesor saya berpesan kepada saya, agar saya membaca juga buku ilmu-ilmu praktis. Kemungkinannya: 1. Beliau takut, saya akan menekuni ilmu-ilmu dasar, berhenti pada ilmu dasar, dan tidak memaksimalkan kapasitas yang saya miliki. 2. Beliau takut, saya tidak kebagian mendapatkan harta benda dunia dengan menekuni ilmu-ilmu dasar saja. Yang manapun dari keduanya, beliau benar!

Instanta.

Segalanya sekarang serba instant. Anda mengetahuinya. Dari makanan, pakaian, rumah, pendidikan, apa saja, yang serba instant yang diminati. Mengapa begini, mengapa begitu, tidak lagi diminati. Maksud saya, pembahasan yang lebih detail akan masalah/pekerjaan/pendidikan tidak diminati lagi. Saya fikir, Yogya sebagai gudang ilmu, oleh karena itu, dahulu saya menuntut ilmu disana, saya kira hari ini berkurang peminatnya, dan akan berkurang terus peminatnya. Kedepan, Yogya tidak lagi akan menjadi Kota Pendidikan. Alih-alih dari Yogya akan mengubah dunia, malah Yogya dalam proses dirubah dunia!

Realitas Lampau

Siapa mau peduli kota kelahiran leluhur saya itu? Saya katakan, secara metascience, kita tidak dapat menolong Yogya mencapai kejayaannya kembali sebagai Kota Pendidikan, seberapa keras pun usaha anda. Sebabnya adalah: Yogya sebagai kota pendidikan, adalah realitas lampau. Lebih mudah, Yogya dibawa pada realitas kini, bahwa, ada kerajaan dalam negara republik, atau, realitas kini apapun, yang anda fikir dapat diimplementasikan untuk Yogya. Pendirian Universitas dan Pendidikan instant di Indonesia itulah penyebab Yogya kehilangan pamornya sebagai kota pendidikan. Hasil pendidikan tidak bisa instant. Jika para Guru Besar, Doktor dan Dosen di Yogyakarta, masih fokus mengajarkan ilmu-ilmu dasar, berdampingan dengan ilmu praktis, hasilnya akan dipetik beberapa tahun kedepan, seperti kita memetik hasil, di daerah manapun kita belajar ilmu-ilmu dasar yang kuat.

Hasil Pendidikan Ilmu-ilmu Dasar Yang Kuat.

Universitas Indonesia memantau dan memanggil pulang alumninya yang pernah belajar ilmu dasar di UI, untuk menularkan pada mahasiswa adik-adik kelasnya. Apakah UGM memantau dan pernah memanggil pulang alumninya? Yang saya akan katakan adalah:

Ada banyak realitas dan kebenaran pada individu lain selain yang kita yakini. Kebenaran tidak hanya satu. Dalam persoalan makan siang dimana hari ini, saya punya 3 kebenaran. Anda mungkin punya 5…….

Waktunya makan siang. Salam. Hilal Achmar.