24. METASCIENCE TINGKAT AKTUALISASI

Saya berpendapat bahwa aktualisasi mempunyai tingkatan kualitas sendiri, yang beragam pada berbagai individu. Maka, manusia mempunyai lapisan-lapisan maya dalam tingkat kualitas aktualisasinya, dari beragam jalur aktualisasi yang ditempuhnya.

Saya akan memberikan ilustrasi yang Meta:

1. Kelompok saudagar, akan berkumpul dan cocok, katakanlah secara kimia dengan kelompok saudagar juga. 2. Kelompok agamawan akan cocok dengan kelompok agamawan. 3. Kelompok Pendidik, akan cocok dengan kelompok pendidik juga. Demikianlah seterusnya. Pendeknya, manusia di dunia, berada dalam kelompok yang sesuai dengan minatnya masing-masing, dan pada tingkat aktualisasinya masing-masing. Walaupun sama-sama berprofesi sebagai pendidik, biasanya, sangat sulit misalnya, pendidik kelas 1 SD, masuk dalam kelompok profesor atau doktor pendidik di universitas, karena perbedaan kualitas aktualisasinya. Kalau tingkat kualitas aktualisasinya sama, tentu saja bisa, kalau faktor like and dislike dikesampingkan. Kelompok agamawan, walau kualitas aktualisasinya sama dengan saudagar, juga akan sangat sulit masuk dalam lingkup pergaulan saudagar. Individu, teraktualisasi pada bidangnya masing-masing, dan nyaman berada dalam kelompoknya masing-masing. Tetapi yang jelas adalah: Kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan tingkat kualitas aktualisasi.

Pada Tingkat Kualitas Yang Manapun, Individu Dapat Berbahagia.

Bukankah, kebahagiaan itu pernah kita dapatkan, pada saat kita balita atau remaja, yang pada saat itu, mengertipun tidak tentang aktualisasi. Sedikit tentang kebahagiaan, kalau kita dapat mensyukuri kebahagian-kebahaiaan kecil dalam keseharian kita, cukuplah kita mendapat predikat orang yang berbahagia., sehingga kita senang berada dalam kelompok orang-orang yang berbahagia, bukan malahan timbul sifat dengki-iri. Demikianlah, kelompok yang teraktualisasi, saudagar, pendidik, pakar, seperti tergiring menuju tempat yang sama, saling mencari. Dapat dikatakan bahwa:

Sesamanya Akan Merindukan Sesamanya.

Yang paling kuat yang saya perhatikan adalah, ketika manusia telah mencapai sebagian besar ideanya, seorang diri, misalnya dalam karirnya, pada masa paruhbaya, akhirnya akan mencari sesamanya, walaupun dahulunya, tatkala masing-masing mencari jati dirinya, ada waham kebesaran pada masing-masing individunya.

Ketika Individu Telah Teraktualisasi, Ia Ingin Yang Lain Menjadi Saudaranya!

Itulah 70 sifat baik, yang telah saya uraikan dalam posting sebelumnya, yang memujud dalam diri manusia yang telah teraktualisasi. Persaudaraan! Tingkat tertingginya adalah: ia menginginkan saudaranya menjadi sebahagia dan seberuntung dirinya. Ia mau membimbing saudaranya yang kurang beruntung, untuk menapaki jalan-jalan yang menghasilkan kebahagiaan bersamanya. Dalam metascience, kita belajar dasarnya, intinya, aplikasinya, manfaatnya, maksimalnya, kaitannya, pengungkapan tersembunyinya, kesederhanaannya, keterbatasan yang tidak dapat dilampaui manusia, sehingga, segala persoalan menjadi terang-benderang.

Intermezzo:

Pendapat Saya Sampai Akhir Zaman Adalah Valid, Kalau Tidak Ada Yang Dapat Membuktikan Sebaliknya!

Saya akan senanghati, jika anda memberi masukan atau memberitahu saya, ada pendapat, atau pendapat anda sendiri yang lebih valid. Walaupun bagaimana, saya akan terus menulis.

Penghalangan, skenario besar terhadap pengalihan fokus manusia terhadap aktualisasi, adalah upaya pembodohan yang dijalankan sekelompok manusia terhadap sekelompok, suku, sukubangsa dan atau bangsa lainnya. Sengaja atau tidak disengaja, kelompok negara berkembang/miskin, individu-individunya, tidak lagi fokus terhadap tujuan hidup, cita-cita, dan pencapaian aktualisasinya. Era telah berubah, kita tidak dapat mengubah zaman, Amerika Serikat, telah saya duga akan mengalami kehancuran, segala bangsa, termasuk Indonesia, pernah mengalami masa kejayaannya dan masa kehancurannya, dan nampaknya, bergiliran diantara bangsa-bangsa. Itu yang membuat kita mudah menduganya. Mengapa Amerika akan mengalami kemunduran? Pendapat saya adalah:

Individu-Individunya Mengalami Kemunduran Dalam Keterampilan Hidup!

Orang yang teraktualisasi, tentu, mempunyai keterampilan untuk hidup, yang menjadikan kehidupannya lebih bermakna. Fokus dalam keterampilan hidup adalah kuncinya, untuk memajukan peradaban bangsa, bukan multitasking. Kejatuhan negara-negara makmur, diakibatkan oleh ‘rasa aman’ dan ‘rasa terlindungi’ yang dirasakan oleh warganya, lengah terhadap ilmu-ilmu murni dasar yang dahulunya menjadi penyebab kemakmurannya, lengah terhadap keterampilan yang begitu hebat dikuasai oleh kakek-nenek mereka. Ini bisa juga dianalogikan untuk keluarga. Jika Indonesia ingin jaya dalam bidang agraris-agrokompleks, dikira apa yang harus rakyatnya kuasai? Keterampilan dalam ilmu-ilmu pertanian pada khususnya dan ilmu-ilmu agrokompleks pada umumnya, dan ilmu-ilmu kelautan lebih umumnya lagi. Modal kita tanah dan laut, modal yang sangat besar yang nyatabenarnya kita punyai, yang nyatabenarnya juga dapat membuat kayaraya negeri kincir angin. Yang sebenarnya, nyatabenarnya juga, dapat membuat kita lebih sejahtera.

Di sudut sebuah cafe yang sangat nyaman, cafe para saudagar. Seseorang duduk dengan tenang, menikmati coffee terbaik di dunia, matanya agak melamun…. Orang ini fokus.

Di sudut lainnya, seseorang sedang bekerja dengan notebooknya, juga dengan coffee terbaik, seringkali handphone-pergaulan sosialnya berdering, sambil mengetik dan bekerja, menyeruput coffee, tertawa terbahak di hp-nya, datang lagi kawannya, membaca dokumen yang disodorkan kepadanya, masih tetap sibuk dengan hp-nya, disela dengan memerintahkan sesuatu kepada temannya….. Orang ini multitasking.

Apakah Sekarang Anda Dapat Menduga, Akan Menjadi Apa Orang Yang Fokus Dan Orang Yang Multitasking Ini Dalam Kehidupan Mereka Selanjutnya? Lebih Luas Lagi, Apakah Anda Dapat Menduga, Akan Menjadi Apa Bangsa Yang Fokus Dan Bangsa Yang Multitasking Dalam Percaturan Dunia Abad Ini?

Gabungan dari aktualisasi individu, mewujud dalam aktualisasi bangsa. Jika aktualisasi bangsa kita tinggi, kita akan bergaul dengan bangsa makmur dengan menegakkan kepala. Kita akan dicari, dan kita akan mencari bangsa yang sama tingkat aktualisasinya dengan bangsa kita. Seperti itulah tabiat dunia……………..

22 Feb 2011. Selamat Mencari Sesama Anda. Salam Persaudaraan. Hilal Achmar.

Advertisements

23. METASCIENCE BANTAHAN TERHADAP KEBUTUHAN PADA PSIKOLOGI HUMANISTIK

Kebutuhan menurut metascience adalah, segala yang dibutuhkan dan urgensi adanya bagi tumbuh kembang seorang individu, serta kemajuan peradaban manusia di dunia. Ada 70 syarat yang seharusnya ada, agar terdapat percepatan tumbuh-kembangnya peradaban manusia. 70 syarat ini kita namakan sifat-sifat yang baik, begitu saja. Sifat yang baik ini sebagai berikut:

1. Sifat Pemberi. 2. Sayang. 3. Penguasaan. 4. Kesucian. 5. Selamat. 6. Kedamaian. 7. Penjaga. 8. Mulia. 9. Perkasa. 10. Megah. 11. Mencipta. 12. Kebebasan. 13. Pemaaf. 14. Penolong. 15. Ekonomi. 16. Pembuka. 17. Pengetahuan. 18. Mengembangkan. 19. Mengentaskan. 20. Pemacu. 21. Pendengar. 22. Pelihat. 23. Keadilan. 27. Kehalusan. 25. Kewaspadaan. 26. Penyantun. 27. Keagungan. 28. Penegakan. 29. Kederajatan. 30. Kesadaran. 31. Pemelihara. 32. Kuat. 33. Teliti. 34. Nalar. 35. Pengawasan. 36. Cukup. 37. Pengabulan. 38. Keluasan. 39. Kebijaksanaan. 40. Kecintaan. 41. Kebenaran. 42. Perlindungan. 43. Keterpujian. 44. Perhitungan. 45. Kepemicuan. 46. Pengadaan. 47. Keunikan. 48. Penguasaan. 49. Kepenentuan. 50. Pelopor. 51. Kelogisan. 52. Kemisterian. 53. Keterpeliharaan. 54. Kemurah-hatian. 55. Pengakuan. 56. Pemaaf. 57. Pengasih. 58. Teritorial. 59. Kebesaran. 60. Keadilan. 61. Kolektifitas. 62. Kaya. 63. Sosial. 64. Kemanfaatan. 65. Kepemimpinan. 66. Keindahan. 67. Mewariskan. 68. Kegeniusan. 69. Kesabaran. 70. Pendidik. Setelah mengetik ke 70 syarat sifat-sifat yang baik ini, yang ingin saya katakan adalah:

Semakin Banyak Individu Mempunyai Syarat Sifat Tumbuh Kembang, Semakin Tinggi Individu Akan Teraktualisasi.

Kebalikannya adalah, semakin sedikit individu mempunyai syarat tumbuh kembang dalam dirinya, semakin rendah kualitas aktualisasinya. Akan sulit menjadi pemimpin, apalagi, menyumbang untuk kemajuan peradaban manusia! Pertanyaan saya adalah:

Bagaimanakan Caranya, Agar Manusia Mempunyai 70 Sifat-sifat Baik Tersebut?

Caranya ialah, dengan menggunakan ke 70 sifat itu, kemudian mengimplementasikannya dalam hidup dan kehidupannya! Anda lihatlah berkeliling, mungkin dengan bersepeda dan mengobrol pada orang-orang di pangkalan, atau para pensiunan yang sering berada pada halaman rumah di pagi hari. Kalau anda mendapati, ada individu yang mempunyai banyak sifat-sifat yang baik itu, maka anda dapat menyaksikan:

Orang-orang Yang Mempunyai Banyak Sifat-sifat Yang Baik, Pasti Mempunyai Keberuntungan Yang Besar!

Ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang mempunyai sedikit sifat-sifat yang baik.

Bantahan Saya Terhadap Abraham Maslow:

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan Harga Diri dan Penghargaan Dari Individu lain untuk mencapai aktualisasi.

Menurut Saya: Tidak ada kebutuhan akan harga diri dan penghargaan dari orang lain untuk mencapai aktualisasi. Kalau kita mempunyai syarat 70 sifat baik diatas, cukuplah diri kita sendiri menghargai pencapaian kita, dengan memakai sifat baik No. 8, Sifat Mulia. Anda dan saya sudah mulia kalau mempunyai 70 sifat baik itu!. Dan untuk orang lain yang tidak menghargai kita, kita memakai sifat baik No. 39. Kebijaksanaan dan No. 13. Pemaaf. Dengan menerapkan 70 sifat baik itu, jalan telah terbentang menuju aktualisasi. Beres!.

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan Cinta & Rasa Memiliki-Dimiliki untuk mencapai aktualisasi.

Menurut Saya: Maslow belum berpendapat intinya. Rasa senang memacu aktualisasi. Rasa Benci menghambat aktualisasi. Cinta dan rasa memiliki-dimiliki itu, hanya salah satu dari Rasa Senang. Saya pernah menulis, rasa itu hanya dua: Senang dan Benci. Cinta, bahagia, ceria, terpesona, sayang, rindu, takjub, butuh, bahkan aktualisasi adalah masuk dalam kategori rasa senang. Sedang iri, dengki, sedih, pilu dll, masuk dalam kategori rasa benci. Untuk mencapai aktualisasi, lebih cepat dengan memakai sifat No. 57 Pengasih, daripada mengharapkan cinta dan rasa dimiliki oleh orang lain!.

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan perlindungan dan rasa aman.

Menurut Saya: Tidak ada kebutuhan akan perlindungan dan rasa aman. Tentu, kalau balita dan remaja, saya setuju. Kalau pada fase dewasa, saya kira tidak. Dunia, bukanlah tempat yang aman. Kalau individu tidak mau bekerja, maka tunggulah kehancurannya. Kalau individu merasa ’dilindungi’ dan ’aman’, maka, tunggulah bahaya yang mengancam. Rasa tidak dilindungi, tidak aman, tidak seimbang, adalah baik. Jika individu sering berada dalam keadaan tidak aman, tidak dilindungi, tidak seimbang, misalnya dalam bidang financial, dan bidang lainnya, katakan saja dalam kondisi ’terdesak’ keuangan, maka kemungkinan besar daya-daya potensial yang ada dalam dirinya, akan menjadi energi yang luar biasa besar! Kita dapat menyaksikan bahwa, sebagian besar orang-orang terkaya di dunia, yang bukan karena warisan, pada mulanya adalah individu yang ’terdesak’ secara financial. Justru, rasa tiadanya perlindungan, tiadanya rasa aman dan keterdesakan, akan memacu aktualisasi. Yang saya ingin katakan adalah, bertentangan dengan Maslow yang membutuhkan perlindungan dan rasa aman, saya mengatakan:

Individu Membutuhkan Rasa Tiadanya Perlindungan Dan Rasa Tiadanya Rasa Aman, Untuk Mengaktifkan Energi Potensial Yang Ada Dalam Dirinya!

Menurut Abraham Maslow: Ada kebutuhan akan Lingkungan Eksternal Sebagai Pra kondisi bagi pemuasan kebutuhan, ialah kemerdekaan, keadilan, ketertiban, dan stimulasi.

Menurut Saya: Tidak ada kebutuhan akan Lingkungan Eksternal Sebagai Pra kondisi bagi pemuasan kebutuhan, seperti kemerdekaan, keadilan, ketertiban, dan stimulasi. Kalau anda tidak merdeka, anda dapat memakai sifat No. 6. Kedamaian, dan No. 12. Kebebasan. Saya akan ilustrasikan: Nelson Mandella, dia dipenjara, tidak merdeka, tidak diperlakukan dengan adil. Tapi beliau teraktualisasi! Bahkan lebih teraktualisasi dari anda dan saya, yang bebas dan telah diberi keadilan!

Kebebasan Lebih Menunjuk Kepada Ruhani Daripada Jasmani!

Untuk kebutuhan fisiologis, udara, air, makanan, rumah, istirahat dan seks, saya berpendapat sama dengan semua orang.

Menurut saya, Hirarki kebutuhan yang kita bahas ini, lebih sederhana, dan sudah agak lengkap uraiannya tentang 70 sifat yang baik. Dan yang lebih utama adalah mudah di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari menuju aktualisasi, sehingga kita dapat memperoleh Keberuntungan Yang Besar.

22 Feb 2011. Selamat Menempuh Keberuntungan Yang Besar. Salam. Hilal Achmar.

22. METASCIENCE TINGKAHLAKU TERBAIK

Dalam metascience, apa yang dimaksud dengan tingkahlaku manusia, singkatnya ialah: segala tingkahlaku, mulai dari berencana melakukan suatu tindakan, melakukan organisasi, melakukan koordinasi, meluangkan waktu untuk evaluasi implementasi tindakan, kemudian mempertanggungjawabkannya.

Tingkahlaku yang diamati, ialah segala tingkahlaku manusia, dalam segala bidang kehidupan, sosial, ekonomi, politik, kepemimpinan, sudutpandang, polafikir, idea, kecerdasan, kebiasaan, makna hidup dan sebagainya. Sudah umum diketahui, bahwa tingkahlaku manusia dipelajari pada beragam ilmu pengetahuan: sosiologi, politik, filsafat, psikologi, psikologi sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain, baik tingkahlaku individu, kelompok, atau tingkahlaku sosial dan interrelasi vice-versanya dengan tingkahlaku individu. Karena saya juga berada dalam bidang ilmu pengetahuan yang bertradisi timur,  saya mengakui juga adanya tingkahlaku yang dipengaruhi oleh agama-agama dan berbagai aliran kepercayaan.

Di Indonesia secara umum, saya melihat, kesalehan dipakai sebagai penilaian tingkahlaku individu yang utama, terutama kesalehan transendental. Kesalehan horizontal, yang berkaitan dengan sosial-kemasyarakatan, saya duga tidak pada tempatnya saya bicarakan dalam posting ini.

Bahkan, segala tingkahlaku manusia Indonesia, sebagian besarnya, dijustifikasi dari kesalehan transendental. Kesalehan horizontal kemasyarakatan, rupa-rupanya, sedikit ambil bagian dalam penilaian tingkahlaku yang ‘baik’. Saya ambilkan satu contoh sederhana yang sering diungkapkan orang: walaupun ia banyak berderma dan menolong orang, sayang ia tidak pernah ke gereja, atau belum menjalankan sembahyang. Ini faktanya.

Dalam metatingkahlaku, kita berusaha mencari kebenaran yang nyatabenarnya, sebenarnya. Pertanyaan saya adalah:

Tingkahlaku Terpuji Apa Yang Seharusnya Ada Pada Diri Manusia?

Pertanyaan ini dalam rangka, penyerapan ilmu yang benar dan bermanfaat untuk diri manusia. Oleh karena, kita, bisa saja mempelajari segala bidang ilmu dan menguasainya, tanpa kita berkontemplasi, apa manfaatnya dari ilmu-ilmu tersebut.

Sebelum Mempelajari Suatu Ilmu, Tanyakan Lebih Dahulu Kepada Diri Anda, Manfaat Dari Ilmu Tersebut. Kalau Tiada Manfaatnya, Untuk Apa Kita Pelajari?

Selayaknya kita mencari, tingkahlaku apa yang seharusnya ada pada diri manusia, yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, maupun masyarakat, dan sekali lagi yang nyatabenarnya, bagi kita dalam jalur ilmu pengetahuan tradisi timur.

Dalam waktu jeda saya, saya menemukan bahwa, tingkahlaku yang nyatabenarnya, yang seharusnya ada dalam tradisi timur, yang tidak menutup kemungkinan juga dalam tradisi barat, jika, pelopornya bertradisi Yahudi, adalah:

Kesalehan Transendental Dan Horizontal, Dimana Individunya Mau Diingatkan, Dan Selalu Mengingatkan Manusia Kepada Kehidupan Abadi.

Kehidupan abadi adalah metapengetahuan, manusia tidak mengetahuinya, dalam kondisi bagaimana dan seperti apa tempat manusia dalam kehidupan abadi itu, kecuali sedikit. Sampai saat ini, kehidupan abadi itu, dicoba untuk ditelusuri manusia secara science, maupun metascience. Secara metascience dengan teknik Perjalanan Keluar Dari Jasmani, suatu eksplorasi ruang-waktu dan jarak yang mengesankan. Sekali waktu, saya ingin mengupload thema ini dalam posting saya.

Satu lagi definisi situasi yang meta, yang nyatabenarnya ada di dunia:

Suatu Situasi Yang Jarang Dilihat Mata, Jarang Di Dengar Telinga dan Jarang Terlintas Dalam Hati, Kecuali Dalam Waktu Jeda Dan Kontemplasi.

19/02/11. Selamat Menjalankan Laku Tingkahlaku. Salam Meta. Hilal Achmar

21. METASCIENCE HAK AZASI & KEBEBASAN MANUSIA

Hak azasi manusia singkatnya adalah, hak yang melekat pada individu, sejak dalam kandungan. Contoh Hak Azasi Manusia ada dalam UUD 1945. Sedangkan contoh hak azasi adalah: Hak untuk hidup dan hidup bersama seperti individu lainnya, hak memperoleh perlakuan yang sama, hak mendapatkan pekerjaan dan hak memperoleh pendidikan.

Kebebasan yang dapat dipunyai manusia misalnya: kebebasan berbicara dan berekspresi, tentang apa saja, baik positif maupun negatif, tanpa tindakan sensor, kemudian ditambahkan: dengan syarat tidak menyebarkan kebencian (ini tentu maksudnya, supaya anda tidak bisa mengkritik otoritas kelompok yang menafsirkan kebebasan berbicara dan berekspresi untuk anda fahami!)

Saya sendiri, saat jeda, sering berfikir, apakah kebebasan itu hak yang melekat pada individu, atau diberikan pada individu dengan batasan-batasan tertentu, seperti dicontohkan diatas. Saya menemukan bahwa:

Manusia Bebas Berkehendak Apa Saja Dengan Kebebasan Sebebas-bebasnya!

Misalnya saja, kita ambil contoh kebebasan berbicara, yang dibatasi oleh: 1. Tidak menyebarkan kebencian. 2. Tidak menghasut. 3. Tidak bertendensi membunuh karakter. 4. Tidak menjelek-jelekkan. 5. Tidak dimaksudkan untuk perbuatan yang tidak menyenangkan. 6. Tidak memfitnah…….  kalau batasan ini saya teruskan, bisa menjadi 100 atau seribu batasan. Yang saya ingin katakan adalah:

Kalau Ada Batasan, Maka Tidak Lagi Disebut Kebebasan!

Mengapa manusia berbicara tentang kebebasan? Ya begitulah manusia, selalu mencari keunggulan kerajaan manusia dibanding kerajaan hewan. Padahal, burung lebih bebas dari manusia, sebebas-bebas kehendaknya. Kalau sekelompok burung terbang migrasi dari benua Australia ke benua Amerika, tak perlu urus visa, tak perlu bawa passport, tak pernah juga burung yang mempunyai otoritas mencekal sodaranya sesama burung. Akuilah, manusia, walaupun bisa, tidak pernah berhasil sebebas burung!

Untuk Apa Bebas & Dapat Terbang Seperti Burung, Sedang Kita Punya Kelebihan Yang Sempurna!

Andainyapun individu menjalani prinsip-prinsip kebebasan berkehendak yang sebebas-bebasnya, dia akan berhenti pada satu titik perhentian yang dinamakan tanggungjawab. Sebab sifat manusia selalu ingin sembunyi dari tanggungjawab (lempar batu, sembunyi tangan), maka dibuatlah aturan sekedar yang mampu dicapai akal fikiran. Yang ingin saya katakan adalah:

Tanggungjawab Lebih Penting Dan Lebih Bernilai Dari Kebebasan Itu Sendiri.

Sudahkah Anda Mempertanggungjawabkan Kehendak Yang Telah Anda Laksanakan Hari Ini? Apakah kita lebih baik jeda dahulu (Jawa: Leyeh-leyeh, dengarkan uyon-uyon, sambil menyeruput teh gula batu..?), Atau, kita ke cafe terindah, sambil mendengarkan Moon River, dan menikmati Civet Coffee………. Salam. Hilal Achmar.

 


020. METASCIENCE DERAJAT MANUSIA

Pangkat, Jabatan dan Kedudukan adalah imingan yang sangat menarik hati manusia. Ketiga imingan itu dapat anda kejar, atau, seketika anda diberi tatkala famili anda mencapai pangkat, jabatan dan kedudukan yang tinggi. Misalnya, anda tiba-tiba jadi menteri, karena presiden baru kebetulan kenalan anda.

Derajat manusia yang akan kita bahas, adalah derajat manusia secara universal, yang bisa dikejar sendiri oleh individu, dan tidak bisa diberikan oleh individu lainnya. Misalnya Hilal Achmar,  Jendral Bintang Lima, Jabatan Panglima, Kedudukan dekat dengan Raja, dapat dianugerahkan Raja kepada Saya. Tetapi raja tidak dapat menganugerahkan saya : Hilal Achmar, Manusia Berderajat Tinggi!

Yang saya ingin katakan adalah, Derajat manusia, tidak dapat diberikan oleh individu, atau kelompok individu. Kita definisikan, mudahnya saja: Ketinggian Derajat Manusia, dianugerahkan oleh Tuhan.

Setelah beberapa posting, jelaslah, apa yang saya bahas adalah ilmu yang bertradisi Timur. Saya tidak antipati dengan ilmu yang berasal dari tradisi barat. Ilmu yang bertradisi timur, menurut saya, ilmu yang mengakui Tuhan Sebagai Sumber dari Segala Sumber, termasuk Ilmu Pengetahuan. Saya buktikan secara sangat sederhana: segala tindak anda dalam kehidupan anda sebagai orang timur, selalu terkait dengan Tuhan. Misalnya saja dalam facebook, GBU, Salam, sering ikut dalam status yang di upload. Dan contoh lainnya, seperti makan dan menjelang tidur, kita selalu ingat Tuhan, sebagai orang Timur.

Derajat yang tinggi, yang diakui secara universal, baik di negeri barat atau timur, dapat dicapai dengan banyak cara, dan tingkahlaku yang juga diakui secara universal. Saya akan memberikan satu dari banyak cara mencapai derajat yang tinggi.

JEDA

Jeda artinya berhenti sejenak. Coffee Break itu artinya berhenti sejenak dari kegiatan yang beruntun dalam satu hari. Contoh jeda, anda dengan santai duduk nyaman, sambil menikmati minuman dan penganan ringan. Boleh di Cafe, boleh di teras atau beranda rumah anda. Kemudian tanyakan pada diri anda sendiri pertanyaan berkualitas (rendah) ini. Anda mungkin punya pertanyaan yang berkualitas sangat tinggi.

1. Sesibuk apakah saya, sehingga tidak dapat jeda?. 2. Sarapan, lunch, semua nikmat. Apakah saya telah berterima kasih pada Tuhan hari ini?. 3. Apakah hari ini, atau tahun ini, saya telah banyak berguna untuk orang lain? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Yang saya ingin katakan adalah: Bukan kerja smart, bahkan ditambah lagi dengan kerja keras dalam mengejar pangkat, jabatan, dan kedudukan yang menyebabkan anda berderajat tinggi…..

Justru, Dengan Jedalah, Yang Kelihatannya Santai, Anda Berkesempatan Mencapai Derajat Yang Tinggi.

Selamat Jeda. Salam. Hilal Achmar.

 



 

XIX. METASCIENCE: SUMBER PENGETAHUAN

Sumber pengetahuan Metascience berasal dari: 1. pancaindera jasmani, 2. berita yang benar, 3. pancaindera ruhani, 4. logika, 5. akalnalar, 6. intuisi, 7. Mimpi yang benar, dan 8. wahyu. Baiklah akan kita bahas satu persatu. Saya memberikan terminologi baru tentang klasifikasi intuisi, saya juga menambahkan terminologi mimpi yang benar sebagai sumber pengetahuan. Sebelum ini, science dengan tradisi barat tidak pernah menambahkan mimpi sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Kalau pada era 2.000-an anda memotret, kamera anda berisi film celluloid didalamnya.  Sekarang, anda memotret dengan kamera digital, yang tidak ada lagi film celluloid didalam kamera anda. Kalau pada era 2000-an, ada tulisan mengenai kamera digital tanpa film, apakah kira-kira anda percaya begitu saja? Ternyata ada dua kebenaran dalam memotret, ialah dengan film celluloid dan dengan digital equipment! Yang saya akan katakan adalah, ada dua (jika anda sudah punya satu) kebenaran dalam global science, baik itu science maupun metascience. Kemudian, ada 2, atau 3, atau berapapun kebenaran dalam metascience. Banyak kebenaran itulah yang akan kita rujuk, untuk menjadi kebenaran yang kita yakini, hasil proses akalnalar, yang pastibenarnya. Yang saya ingin katakan adalah, saya akan buktikan jika anda berkenan, bahwa mimpi juga dapat sebagai sumber pengetahuan, seperti kamera digital sebagai sumber hasil foto anda. Mari kita kembali ke bahasan awal. No.1 sampai 3, tidak akan saya bahas, jika anda tidak menginginkan.

1. Pancaindera Jasmani: Perasa (Lidah), Pelihat (mata), Pembau (Hidung), Peraba (Kulit) dan Pendengar (Telinga). Pancaindera Jasmani, belum dapat dipercaya dalam menilai hasil explorasinya. Kalau anda melihat seseorang mengayuh sepeda tua, atau mengendarai mobil mewah, apakah ‘pasti’, pengayuh sepedan tua lebih miskin dari pengendara mobil mewah? Pancaindera Jasmani, tidak bisa memperoleh ‘kebenaran yang pastibenarnya’ dari info yang diinputnya. Informasi harus diolah lagi.

2. Berita Yang Benar yang berasal dari: a. Otoritas Absolut. b. Otoritas Kitab Suci. c. Otoritas Pembawa Agama. d. Otoritas yang berkompeten terpercaya. e. Konsensus Ilmuwan. f. Berita yang disaksikan banyak orang.

3. Pancaindera Ruhani: Estimasi, representasi, imajinasi, rekoleksi, retensi, dan bersitan/lintasan hati.

4. Logika: Logika, sifat inherent normanya adalah netral. Logika tidak dipengaruhi oleh norma moral, agama, hukum, dan segala norma apapun yang ada pada diri anda. 1+1=2, hasilnya dua tersebut adalah bebas dari segala norma. Ketika saya masih kuliah dahulu, ada sebuah diskusi yang salah satu themanya tentang: lebih tinggi manakah kedudukan antara logika dan intuisi sebagai sumber pengetahuan?. Semua yang hadir menjawab intuisi. Saya sendiri yang menjawab lebih tinggi logika! Kesimpulan diskusi adalah: Intuisi lebih tinggi dari logika! Saat itu mereka kira-kira,  mengambil referensi dari pengalaman spiritual Einstein, bahwa intuisilah yang menuntun Einstein menemukan teori relativitasnya yang cemerlang. Saya mengerti kisah itu, tetapi saya tetap mengatakan, bahwa logika lebih tinggi. Sampai sekarang, di universitas di Indonesia masih mengajarkan bahwa, intuisi lebih tinggi dari logika. Karena themanya adalah: lebih tinggi manakah kedudukan antara logika dan intuisi, saya jawab logika. Itu jawaban yang saya tahu akan ditolak, walaupun saya memberi paparan. Pada saat diskusi itu terjadi pada era 80-an, saya mengetahui, bahwa: Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi, diantara logika dan intuisi. Keduanya berkedudukan sama sebagai ilmu pengetahuan. Dan yang lebih penting bagi kesadaran saya adalah:

Kadangkala logika mengungguli intuisi, kadangkala intuisi mengungguli logika, dalam mencapai kebenaran yang pastibenarnya.

5. Akalnalar: Manusia yang telah teraktualitas, menggunakan akalnalarnya untuk mencapai kebenaran yang pastibenarnya. Kebenaran yang pastibenarnya ini didapatkan dari olahfikir akalbudi-akalnalar, yang dipanjatkan semata untuk mencari kebenaran yang pastibenarnya, bukan kebenaran yang mungkinbenarnya. Kebenaran yang mungkinbenarnya, tidak berdayaguna mengembangkan dan meningkatkan kapasitas manusia secara general, dalam mendaki kualitas tertinggi kemanusiaannya. Baiknya sekarang saya akan memberikan ilustrasi sederhana:

Namanya XX. Seorang yang belum bekerja dan belum berpenghasilan, setelah ‘melihat & mendengar’ banyak kunci apa saja yang hilang, ‘menyadari’, bahwa ia ‘mungkin’ dapat memecahkan masalah ekonominya dengan menjadi ahli duplikat kunci. Setelah belajar dan membeli peralatan, ia kemudian membuka satu kios dan sukses membuka beberapa kios lainnya di lain tempat. Masalah ekonomi XX selesai, ia tangguh, sulit disaingi. XX menggunakan logika dan akalnalar untuk memecahkan masalah ekonominya.

Namanya YY. Seorang yang belum bekerja dan belum berpenghasilan, setelah ‘melihat & mendengar’ banyak kunci apa saja yang hilang, ‘menyadari’, bahwa ia ‘mungkin’ dapat memecahkan masalah ekonominya dengan membuat duplikat kunci, untuk mencuri. Setelah menduplikat kunci rumah orang, ia sukses juga membobol beberapa rumah orang. Masalah ekonominya selesai, ia licin, sulit ditangkap. YY hanya menggunakan logika  untuk memecahkan masalah ekonominya. Ilustrasi ini telah umum diketahui, tetapi harap dicatat, ini bukan pendapat saya. Pendapat saya, adalah pendapat baru, yang tidak umum diketahui: YY juga telah menggunakan akalnalarnya! Saya akan buktikan dibawah ini, dalam pembahasan tentang intuisi.

6. Intuisi: Saya akan membahas terminologi baru tentang klasifikasi intuisi. Intuisilah yang bekerja, sehingga XX dan YY ‘menyadari’, bahwa mereka dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan ekonominya, dengan tindakan yang berhubungan dengan kunci. Setelah menggunakan logika, XX menemukan dua kebenaran: menjadi pencuri atau bekerja sebagai ahli duplikat kunci. Dengan menggunakan akalbudi-akalnalarnya, akalnalarnya dipanjatkan melintasi ruang-waktu, yang kemudian memantapkan pilihannya untuk bekerja sebagai ahli kunci, daripada ahli mencuri. Ini adalah contoh intuisi yang pastibenarnya, yang dalam mencarinya, akalnalarnya tidak teresonansi dengan ‘kebenaran yang pasti salahnya’.

Setelah menggunakan logika, YY menemukan dua kebenaran: menjadi pencuri atau bekerja sebagai ahli duplikat kunci. Dengan menggunakan akalbudi-akalnalarnya, akalnalarnya dipanjatkan melintasi ruang-waktu, yang kemudian memantapkan pilihannya untuk menjadi ahli mencuri, daripada bekerja sebagai ahli kunci. Ini adalah contoh intuisi kebenaran yang pastisalahnya, karena akal nalarnya teresonansi, sehingga tidak mencapai kebenaran yang pastibenarnya. Resonansi dan mimpi yang benar, yang menghasilkan individu memilih kebenaran yang pasti salahnya, akan saya bahas, jika anda menginginkannya.

7. Mimpi Yang Benar: Paling tinggi kedudukannya sebagai salah satu sumber metascience.Ini salah satu pendapat baru saya dalam metascience. Saya akan membuktikannya jika anda berkenan. Jika anda ingin menguasai metascience, sering-seringlah bermimpi. 8. Wahyu. Tidak saya bahas.

16 Feb 2001. 10.02 WIB

Selamat Bermimpi. Salam. Hilal Achmar.


XVIII. METASCIENCE TINGKAHLAKU MANUSIA

Pada jalur science yang lain lagi, tingkahlaku manusia dipelajari dari tingkahlaku hewan. Itu karena Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Sekarang, ilmu itu akan membuat anda tersenyum. Pada jalur yang lain lagi, justru penelitian tingkahlaku manusia yang sakitlah yang banyak dipublikasikan. Pada jalur yang lain lagi, penelitinya berusaha mempelajari tingkahlaku manusia yang sehat. Penelitian ini sulit dilakukan.

Tingkahlaku Individu Dengan Penyesuaian Baik.

Singkatnya, individu ini selalu menyesuaikan tingkahlakunya dengan tingkahlaku orang, komunitas, atau masyarakatnya, agar tingkahlakunya sesuai dengan norma, agar ia tidak dianggap aneh apalagi sakit, padahal aneh, dan memang sakit. Saya akan memberikan ilustrasi.

Pada saat antri, orang tertib berdiri, padahal antrian mengular, berapa puluh kali lebih panjang dari ular terpanjang yang pernah ditemukan. Individu dengan penyesuaian tingkahlaku yang baik, akan berdiri terus-menerus dalam antrian, walaupun kakinya pegal bukan alang-kepalang. Kalau anda mengenal saya, saya tidak akan berdiri dalam antrian, saya akan duduk, walaupun di lantai! Apakah dengan duduk, ketika 500 orang orang berdiri dalam antrian, saya bertingkahlaku buruk?

Søren Aabye Kierkegaard, Bapak eksistensialisme, lahir 5 Mei 1813 di Kopenhagen, pasti akan senang sekali dan pasti matanya berbinar-binar, melihat saya duduk santai diantara 500 orang yang berdiri mengantri…… Eksistensialisme, telah menjadi salah satu bagian yang membentuk tingkahlaku saya, sejak saya kelas III SMP. Saya membaca lebih dahulu tentang eksistensialisme, mungkin lebih awal dari mahasiswa baru di fakultas psikologi, yang tidak berlatar belakang ilmu yang meta……….

Muhammad Badrul, seorang asal Sumatra Barat yang menjadi mahasiswa di MIPA pada tahun 80-an di UGM, mengejutkan saya dengan peribahasa asal daerahnya, yang saya akan ilustrasikan dibawah ini:

Jika Dikurung, Kita Di Luar.

Bayangkan anda dan sekelompok orang, dikurung oleh sebuah tali lasso, yang dapat dikencangkan. Ingatlah peribahasa dari Sumbar itu. Anda harus berada diluar! Bagaimanapun caranya. Kalau perlu, sudah berada diluar, ketika kelompok orang yang lain baru sadar mereka sebenarnya telah terkurung tali lasso! Yang saya ingin katakan adalah, kita berada diluar, karena kita ingin bebas dari kesulitan. Kita juga menghormati, kebebasan memilih dari kelompok orang yang terkurung itu. Hanya kita tidak mau mengikuti, dan berpenyesuaian baik terhadap tingkahlaku yang akan merugikan kita itu!

Ketika Dihimpit, Kita Di Atas.

Jika anda lengah, dan telah terkurung, dan tali lasso itu mulai dikencangkan, sehingga mulai menghimpit anda dan semua yang terkurung, anda harus berada di atas! Supaya anda bebas bernafas. Bebas dari segala kesulitan. Anda tidak boleh berpenyesuaian baik, terhadap segala yang merugikan, baik itu terhadap kelompok yang lima M, maling, minum, main judi, main perempuan dan madat narkotika. Atau ideologi yang mengakali manusia, agar manusia menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Atau manusia hipokrit, yang rela dijerat kemiskinan dan kebodohan……..

Yang saya ingin terakan adalah, Local Genius yang kita punyai, tidak kalah dengan Søren Aabye Kierkegaard sebagai Global Genius, dalam menerangkan kebebasan, sebagai substansi Eksistensialisme………

Wahai Muhammad Badrul, yang sudah 23 tahun tidak lagi bertemu dengan saya, dan para penerus local genius, saya berterima kasih kepada anda sekalian. Seperti kebiasaan saya, mungkin post ini diedit lagi…

Salam Lokal Genius! Hilal Achmar.