35. BINTANG PEMBIMBING

Semasa saya kecil dan remaja, saya fikir, Bintang Pembimbing saya adalah Pengetahuan. Maksud saya adalah, saya mencintai pengetahuan lebih dari segalanya. Pada saat saya remaja, saya tidak mencintai gadis sampai saya tidak dapat tidur misalnya. Saya mencintai pengetahuan, sampai saya tidak dapat tidur, karena saya ingin cepat-cepat menguasainya. Lalu saya menemukan hukum:

Jika Individu Mencintai Pengetahuan, Maka Pengetahuan Akan Mencintainya

Maksudnya adalah: Jika anda mencintai pengetahuan, maka pengetahuan itu akan datang melimpahi anda, sehingga, pengetahuan anda dalam kuantitas dan kualitas yang cukup untuk hidup.

Ada juga individu, yang Bintang Pembimbingnya pada saat remaja adalah cinta. Jadi, dorongan untuk tumbuh kembang itu, adalah cinta, baru pada saat dewasa adalah pengetahuan. Saya kebalikannya, baru pada saat awal dewasalah, Bintang Pembimbing saya adalah cinta. Semua jalur tidak ada masalah.

Yang Bermasalah Adalah: Jika Anda Tidak Mempunyai Bintang Pembimbing!

Saat anda dewasa, cinta tidak lagi menjadi prioritas utama yang menjadi Bintang Pembimbing anda. Kalau saat dewasa, anda masih mengikuti rasa cinta sebagai Bintang Pembimbing anda, maka anda akan kehilangan akal nalar anda untuk:

1. Memilih Pasangan Anda. 2. Memilih Cara Hidup Anda. 3. Memilih Pekerjaan Anda. Dlsb.

Yang saya ingin katakan adalah:

Pengetahuanlah Yang Akan Menjadi Bintang Pembimbing Anda Ketika Anda Mulai Beranjak Dewasa.

Begitulah saya hidup, karena orang tua saya berpesan, bahwa sesiapa yang tidak berpengetahuan, akan dilindas oleh zaman. Sekarang saya mengerti benar, mengapa orang tua saya memberikan saya buku, sampai saya tidak punya lagi waktu, untuk bermain bersamamu, temanku, waktu kita sekolah dulu………..

Salam Sok Tahu. Hilal Achmar

01 Juni 2012. 11.37

Advertisements

34. SIAPAKAH YANG MEMBIMBING ANDA KETIKA ANDA TUA?

34. SIAPAKAH YANG MEMBIMBING ANDA KETIKA ANDA TUA?

Kalau anda sudah tua, usia sudah 60 tahun, kedua orang tua sudah tiada lagi, kira-kira saja, siapa yang membimbing anda? Saya kira, hampir tidak ada lagi manusia yang akan membimbing seorang manusia berusia 60 tahun, yang sudah banyak pengalaman dalam menjalani hidup ini. Kalau yang akan memberitahu/membimbing anda umurnya kurang dari 60 tahun, nanti anda tersinggung…. kalau yang berusia diatas 60 tahun, yah, sudah sama-sama tua, sudah saling bertoleransi jika ada kekurangan pada masing-masing diri. Pertanyaan saya adalah:

1. Siapa yang mengingatkan anda kalau anda ‘keluar dari jalan yang benar”?

2. Apakah pada usia 60 tahun anda masih mau mendengar nasehat orang lain?.

3. Bagaimanakah kiranya, kalau anda berusia 60 tahun, ternyata anda ‘berada pada jalan yang salah?.

Kerugian itu adanya di usia tua. Pada usia muda, acapkali, kerugian bagi kita, kita anggap sebagai suatu keuntungan. Pada usia tua, tidak serta-merta manusia menyadari bahwa dirinya untung, apalagi, kalau dirinya rugi.

Salam. Hilal Achmar.

31 May 2012, Usai Ultah Adik Saya No.3

33. CARA SEDERHANA MENCARI PENGETAHUAN YANG NYATA

Pengetahuan yang nyatabenarnya, sering saya dapatkan dari kawan duduk saya, entah di kendaraan umum, di resto, atau dimana saja saya duduk bersama dengan individu lainnya, baik saya kenal, maupun tidak, atau, malah berlagak saja kenal, walaupun pada dasarnya ‘saya tidak kenal’.

Sudah saya bahas di blog terdahulu, bahwa saya mempercayai, individu dapat teraktualisasi pada usia 40 tahun. Oleh karenanya, saya sering bertanya pada kawan duduk saya, apa pesan dari ayah/ibunya ( yang pasti sudah mencapai usia lebih dari 40 tahun!), yang selalu diingatnya, karena, mungkin, pesan itu adalah pengetahuan yang nyatabenarnya dan sangat berharga.

Hari ini, Minggu 27 May 2012, saya mempunyai beberapa kawan duduk di Margo City, Depok, pada suatu acara ultah. Maka saya, seperti kebiasaan saya, setelah basa-basi, saya bertanya kepada seorang teman duduk di sebelah kanan saya, pertanyaan yang sering saya ajukan sejak mahasiswa, demi mendapat ilmu yang nyatabenarnya. Salah satu bentuk pertanyaan itu adalah:

“Adakah pesan dari orang tua yang selalu kamu ingat?” Kawan itu mengatakan banyak. Saya memintanya untuk memberitahu saya. Dia mengatakan bahwa orang tuanya berpesan,

Untuk Menerima Apa Yang Dia Dapat Dan Kemudian Bersyukur Atas Apa Yang Telah Dia Dapatkan.

Seketika itu juga saya meminta izinnya untuk membagi pesan itu, dan pembicaraan lainnya di blog saya, karena pesan itu adalah pengetahuan yang nyatabenarnya, yang berhubungan dengan upload terakhir saya yang ke 32 yang berjudul : 32. TINGKAHLAKU DAN KELAYAKAN KEHIDUPAN.

Sayangnya, kawan duduk di depan saya, ketika saya bertanya pertanyaan yang sama dengan kawan duduk di sebelah kanan saya, hanya menjawab: Itu untuk diri saya sendiri, orang lain tidak boleh tahu. Andainya pesan itu adalah ilmu pengetahuan yang nyatabenarnya, sayang sekali saya tidak mendapatkannya dan menyebar-luaskannya.

Mengapa pesan: Untuk Menerima Apa Yang Dia Dapat Dan Kemudian Bersyukur Atas Apa Yang Telah Dia Dapatkan, adalah pengetahuan yang nyatabenarnya? Karena:

  1. Menerima apa yang kita dapatkan: Lihat pembahasan saya pada blog no 32. TINGKAHLAKU DAN KELAYAKAN KEHIDUPAN.
  2. Yang no 2, anda fikirkan sendiri ya… Soalnya, kalau anda tidak berfikir, nanti anda dibilang tidak punya fikiran….Hahahaha… Biarlah saya tulis saja sekalian yang no.2: Bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Patutkah saya bersyukur atas apa yang saya dapatkan? Tentu. Saya mendapat rumah warisan, mendapat waktu, tenaga, fikiran, bimbingan dan dana secara gratis dari orang tua saya dalam rangka menumbuh-kembangkan saya. Jadi, bukankah kita patut selalu bersyukur atas apa yang kita dapatkan? Ayoooo…. Kooorrr…..  Jawab saja: Yaaa……. Tidak usah difikir lageeeee..

Pengetahuan yang nyatabenarnya, sering saya dapatkan dengan cara yang sangat sederhana, dari orang-orang bersahaja, yang membagi pengetahuannya, seperti kawan duduk di sebelah kanan saya, yang baru saja saya mengenal namanya. Dahulu sekali, dia kawan sekolah saya, tetapi faktanya, dahulu sekali, saya tidak pernah berkomunikasi satu kata, bahkan satu hurufpun kepadanya. Tetapi, faktanya juga, saya malah ’mendengar paling banyak darinya”.

Saya ingin bertanya kepada anda, darimana anda mendapat pengetahuan? Dari buku? Apa anda rajin ke toko buku dan membeli buku! Dari Internet? Apa anda fokus mencarinya…. dari sekolah? Apakah anda serius menuntut ilmu….. Yang nyatabenarnya bagi saya, pengetahuan tambahan itu dapat berasal dari individu lainnya, yang mempunyai ilmu yang nyatabenarnya.

Tulisan ini, saya didikasikan kepada semua individu yang saya kenal maupun tidak, yang sering dalam waktu singkat, memberi saya pengetahuan yang nyatabenarnya, yang saya tidak pernah mendapatkannya secara formal di sekolah.

Sambil Tertawa, Mendapat Ilmu Yang Nyata

Adik saya serumah, semuanya 3, semuanya wanita. Mereka berbincang:

A: Enak ya Pacaran sama si A, Ortunya punya Bank.

B: So Pasti…..Tajir banget, uangnya banyaaakkkkk….

Bapak Saya : Pacaran saja sama bapaknya Si A….. pasti uangnya lebih banyak lagi…..

Anak-anaknya terbahak berjamaah: Hahahahahahaaaaa……

Anda tidak usah tertawa…. dah telaaatttt tauuuuu……. itu sekira 30 tahun yang lalu!

Upload saya selanjutnya:

34. SIAPAKAH YANG MEMBIMBING ANDA KETIKA ANDA TUA?

Selamat bertanya-tanya, bertanya-tanya agar selamat……..Slamet jangan terus nanya dooonggg……. capek saya Hahahaha……… Dah Slamet kok masih nanya……….

Salam.Hilal Achmar

27 May 2012. 10:49

32. TINGKAHLAKU DAN KELAYAKAN KEHIDUPAN

Kita telah membahas tentang tingkahlaku, sekarang, saya akan mengatakan bahwa kelayakan hidup seorang individu, berbanding lurus dengan tingkahlaku individu tersebut. Saya bertanya kepada anda: Apakah anda layak menjadi seorang pemilik perusahaan multinasional? Pasti anda terkejut dengan pertanyaan saya itu. Mungkin dengan sangat yakin anda akan menjawab:

1. Layak! Kalau memang anda telah memiliki perusahaan tersebut. 2. Tidak layak! Kalau memang anda belum memiliki perusahaan tersebut.

Yang saya ingin katakan adalah: Manusia mencapai puncak kondisi hidupnya, selayak dengan tingkahlaku dan ilmunya.

Kalau seorang individu belum terkenal, belum punya perusahaan besar dan penghasilan besar, itu karena dia belum layak mencapai kondisi itu dalam kehidupannya. Apa penyebabnya?

1. Kekurangan tingkahlaku yang baik. 2. Kekurangan Ilmu Pengetahuan. 3. Kekurangan prakondisi yang mengantarnya ke kondisi tersebut. Jadi kalau anda punya pacar/istri/suami/pekerjaan yang sekarang ini, ya…. selayaknya anda memang begitu. Jadi, anda jangan sering marah pacar/istri/suami/pekerjaan anda yang sekarang, itu sudah yang terbaik bagi anda.

Tukang yang buruk selalu menyalahkan alatnya. Orang yang buruk selalu menyalahkan lingkungannya.

12 May 2012. Ulangtahun ke 17. Salam Hidup Layak. Hilal Achmar

31. MANUSIA TERNYATA TIDAK LOGIS

Ya, dari seluruh tindak dan tandukannya, ternyata manusia tidak logis. Memang, banyak ahli yang mengklaim, atau konselor yang memerintahkan agar, kita menyelesaikan masalah dengan logis, dengan merumuskan masalah dengan logis juga. Lucunya, sang konselor itu termasuk manusia yang tidak logis juga! Anda teliti saja secara sepintas kilat, advisor, konselor, penasihat keuangan, saya pastikan mereka tidak logis juga. Karena apa?

Pada Dasarnya Manusia Memang Bodoh!

Nah! Kalau begitu, apa masih adakah manusia yang berani mengaku pintar sekarang!? Sekarang yang mengaku pintar saya tanya, atau kepada seluruh manusia: Apakah anda sudah merasa puas dengan Pekerjaan, Gaji, Sekolah  Nilai, Rumah, Pergaulan, Keuangan dan Pasangan Anda?

Kalau Anda Pintar Pada Dasarnya, Anda Tidak Akan Menjadi Diri Anda Yang Sekarang!

Justru! Manusia umumnya, atau kita khususnya, dulunya bodoh, maka kita menjadi manusia yang: Yah… sekarang begini ini… Kalau dulu anda pintar pada dasarnya, masa sih anda jadi diri anda yang sekarang ini …. Benar kan..? Hayo semua… mengakulah bahwa kita……. Stupid yang suka pakai sandal jepit. Bukankah kehidupan anda yang sekarang ini, akibat dari tidak logisnya anda? Yang ingin saya katakan adalah:

Manusia Ternyata Tidak Logis!

Sudah. Sekian saja. Dipanjangkan juga percuma, sebab, anda tidak logis…..  Yang menulis posting ini, saya, ternyata tidak logis! Apalagi anda! Pusiiiingggg……..

Selamat Melogis-logiskan Diri. Salam Dari Saya Yang Mulai Logis. Hilal Achmar.

28 Juli 11. 09.56.

28. METASCIENCE: METAMANUSIA

Sebenarnya kita semua adalah manusia yang meta atau katakan saja metamanusia. Sayangnya, tidak semua manusia mau mengakui, bahwa dirinya adalah metamanusia, yang terdiri dari 2 bagian besar: Raga dan Sukma. Kalau kita mengakui adanya meta dalam bentuk sukma dalam diri kita, untuk mempelajari dan mengerti tentang sukmadiri, apakah dapat dipelajari dengan science? Ya, satu bagian, bagian tingkahlakunya. Satu bagian yang lain, hakikatnya, tidak bisa dipelajari dengan science, maka, metascience memberi jalan untuk mempelajari hakikat sukma. Saya akan memberikan ilustrasi: Mempelajari tingkahlaku makan untuk jamuan makan malam resmi pada syukuran teman yang menjadi profesor, tentu anda akan mematut pakaian apa yang harus anda kenakan, dimana anda harus meletakkan tas, bagaimana selayaknya mempergunakan sendok-garpu-pisau, dan bagaimana cara mengunyah yang sopan, adalah tingkahlaku makan. Sedangkan hakikat makan adalah: Untuk Hidup!

Sekarang, kalau kita mempelajari manusia, kita mempelajari tingkahlaku raganya, tindakannya, ideanya, yang bisa kita ‘lihat’ dan eksplorasi. Sedangkan hakikat manusia adalah: Sukmanya! Maka, ada ahli yang mengatakan, bahwa kita adalah Manusia Langit (keren juga ya..).

Kita di Indonesia, hidup & berkehidupan dengan (secara tidak sadar), menganalisa tindakan kita sebelum bertindak, apakah tingkahlaku kita sesuai dengan ajaran spiritual yang meta. Misalnya, jika kita berbicara dengan orang yang lebih tua, atau orang yang lebih mempunyai jabatan, kekuasaan dan kaya, untuk tidak menyinggung ‘ketuaannya’ atau ‘kekayaannya’ otomatis, kita bertingkahlaku sopan dalam berbicara. Artinya apa?

Masyarakat Timur Lebih Mengedepankan Sukma Dari Raga, Walaupun Belum Sepenuhnya Disadari.

Sayangnya, tingkahlaku yang baik itu, tidak sepenuhnya disadari.Apa yang anda fikirkan sehari-hari? Bekerja, mencapai karir yang anda inginkan, mempunyai uang banyak, berharap hari per-hari anda mendapatkan keberuntungan, membangun rumah yang nyaman. Orang tua menganggap anda sedang mengembangkan diri. Rupanya, definisi ilmu pengembangan diri, telah sedikit bergeser artinya dalam masyarakat kita.

Menurut Saya, Pengembangan Diri Lebih Tertuju Untuk Sukma

Dalam mengembangkan kelayakan kehidupan kita, kita tidak boleh lupa mengembangkan sukma kita. Saya ingin bertanya, jika anda telah mengembangkan kehidupan, sehingga anda telah diindisikan makmur, dengan indikator yang ada dalam lingkungan anda, seberapa maju anda telah mengembangkan sukma anda? Darimana indikatornya? Semuanya hanya anda yang tahu, baik perkembangan sukma anda maupun indikatornya. Dan itu bergantung seberapa banyak anda mempunyai referensi, kevalidan referensi, dan arah pengembangan yang ditunjukkan oleh referensi anda tersebut.

Dalam Perkembangannya, Kala Semakin Tua, Raga Semakin Renta, Sedangkan Sukma Semakin Bijaksana.

Pada akhirnya, raga akan semakin tua renta tidak berdaya, sukma semakin pikun dan pelupa. Inilah yang manusia selalu ingin mencegahnya, selalu ingin lari dari tuarenta tak berdaya.  Untuk mengetahui apakah referensi anda valid tentang pengembangan sukma dan memberi arah yang benar, kalau telah tuarenta, dan ingin mengetahui apakah sukma anda telah bijaksana atau belum, apakah indikatornya?

Mengingat Kematian! Yang Manusia Selalu Lari Darinya!

Dari uraian diatas, yang ingin saya katakan adalah, benar bahwasanya manusia ada yang menjalankan kehidupan spiritual dalam tingkahlakunya, tetapi, kehidupan spiritual itu tidak sepenuhnya disadari, timbul akibat refleks tingkahlaku, yang pernah dilakukan ribuan kali. Atau yang semakna, tingkahlaku yang bersifat spiritual itu, lebih berasal dari akal logika atau meniru tingkahlaku individu/masyarakat, daripada berasal dari sukma, yang memujud dalam akalnalarbudi. Ilustrasinya adalah: Anda meniru hidangan sirloin steak dari resto bintang lima. Cara menyajikan dan cutting dagingnya telah benar. Tapi rasanya: Tidak karuan. Bahkan: Tidak karu-karuan…… Yang saya ingin katakan adalah:

Duplikasi Tingkah Laku, Tidak Ada Manfaatnya Dalam Perkembangan Sukma! Perkembangan Sukma Hanya Dapat Dilakukan Dengan Memberi Tahu Sukma Tentang Tingkahlaku Yang Nyatabenarnya!

Itu salah satu kritikan tentang behaviourisme. Oh, bukan. Behaviourisme kan tidak membicarakan spiritual ya.. Untuk menjadi metamanusia, kita harus mendidik sukma kita. Mengapa saya katakan mendidik? Karena sukma dan raga kita ini, sudah ada yang ready for use, ada yang belum. Template yang ada pada sukma itu, belum ready for use, untuk mencapai kapasitas maksimalnya, masih harus diberdayakan/dilatih. Begitu juga dengan tangan, sudah ada, tetapi belum ready for use untuk mencapai kapasitas maksimalnya.

Anda harus melatih tangan anda untuk memukul bola golf, agar bola tidak melayang kemana-mana….. Begitu juga, anda harus melatih sukma, agar sukma tidak tertinggal perkembangannya……..

Kemudian ada Sukma yang lainnya lagi. Ialah, Sukma yang berasal dari SMA IIIB Yogyakarta. Oh, ini tidak saya bahas. Beliau teman saya yang terbaik. Walaupun saya bertingkahlaku dengan ‘penyesuaian tidak baik’, Beliau ‘rela’ menyapa saya… Soalnya… lebih banyak kawan putri yang ‘tidak relanya menyapa saya…’ (Serem kali ya..). Se itu saja saya bahas yaa..

28 Feb 2011. Selamat Menempuh Metamanusia Baru. Salam Sukmagurujati. Hilal Achmar.