45. KEBAHAGIAAN

Apakah Kebahagiaan itu? Masing-masing individu berbeda-beda dalam mendifinisikan kebahagiaan. Anda mempunyai definisi sendiri, demikian juga saya.

Dugaan Tentang Kebahagiaan.

Individu mempunyai dugaan tentang kebahagiaan, kemudian membuat petanya. Tidak ada yang salah tentang dugaan kebahagiaan itu. Dugaan tentang kebahagiaan itu karena kita:

1. Melihat: Kita melihat adanya: Rumah yang bagus, mobil, pesawat, pasangan yang serasi, agamis, spiritualis, pekerjaan yang baik dlsb.

2. Berfikir: Kemudian kita berfikir, alangkah bahagianya, kalau kita mempunyai dan berada dalam kondisi yang kita lihat itu.

3. Perasaan: Kemudian kita akan merasa, bahwa kita dapat mencapai lebih dari yang kita lihat dan rasakan itu.

Peta kebahagiaan yang tertanam dalam jiwa kita, universal akibat kita melihat, berfikir dan merasa. Tetapi, petanya sendiri tidak universal. Suku bangsa yang hidup di gurun, sangat bahagia kalau setiap hari kiranya dapat menjumpai air di oase pada padang sabana atau steppa. Mereka tidak membayangkan Mobil! Beda kan dengan anda yang hidup di khatulistiwa?

 Yang ingin saya katakan adalah,

Gambaran Peta Kebahagiaan Berbeda Diantara Individu.

Peta Kebahagiaan Yang Kita Tuju Itu, Adalah Peta Kebahagiaan Yang Kita Buat Berdasarkan Apa Yang Terlihat Oleh Mata, Terbersit Dalam Fikiran Dan Terlintas Dalam Hati, Yang Kita Anggap Membahagiakan.

Oleh sebab itu, perlulah kita ‘melihat’ lebih jeli, ‘berfikir’ dengan jeli dan ‘menyaring’ apa yang terlintas dalam hati. Orang tua yang bijak, akan membawa anak-anaknya melihat hal yang indah-indah, supaya anaknya terpacu berfikir dan merasakan, kemudian, memberikan referensi untuk persepsi anak-anaknya. Begitu juga pemimpin dan siapa saja hendaknya.

Untuk Mendapat Kebahagiaan, Anda Harus Bayar!

Ya, jika anda ingin mendapat kebahagiaan, anda harus membayarnya, dengan waktu, tenaga, fikiran dan uang anda! Jika anda duduk-duduk saja seharian, kebahagiaan tidak akan menghampiri anda. Jika anda bekerja demi diri anda sendiri, menggunakan waktu, tenaga, fikiran dan uang anda untuk diri anda sendiri, memang tidak ada salahnya, (sebagai derivat pengajaran Machiavelli), anda bisa bahagia juga, tetapi sesaat saja. Untuk mendapatkan kebahagiaan berdurasi panjang, anda harus membayarnya.

Anda harus membeli berlian untuk mendapatkan kebahagiaan berdurasi panjang, alih-alih membeli cincin imitasi yang menghasilkan kebahagiaan berdurasi pendek.

 

Kebahagiaan Berdurasi Panjang.

Kebahagiaan yang berdurasi panjang dihasilkan dari pencapaian individu yang berkaitan dengan spiritualitas. Bahkah, pengikut-sertaan elemen spiritualitas dalam mencapai kebahaiaan, adalah the only way untuk mencapai kebahagiaan yang berdurasi panjang! Apalagi, pencapaian itu tidak menghitung untung ruginya, dengan dikeluarkannya biaya, waktu, tenaga, dan fikiran kita. Misalnya anda menolong orang sakit, dan anda mengeluarkan biaya yang banyak untuk kesembuhannya. Anda tidak menghitung untung ruginya. Jika si sakit itu sembuh total, anda akan mendapatkan kebahagiaan yang berdurasi panjang, setiap kali melihatnya dalam keadaan sehat. Yang saya ingin katakan adalah:

 Semakin Lama Dan Tinggi Tingkat Pengorbanan & Spiritualitas, Semakin Tinggi Juga Tingkat Kebahagiaan Yang Tercapai.

 

Kebahagiaan Berdurasi Pendek.

Contohnya membeli cincin imitasi diatas.

 Kebahagiaan yang tidak nyatabenarnya Berdurasi Panjang Yang Disesali.

Kebahagiaan yang tidak nyatabenarnya ini juga anda harus bayar dengan waktu, tenaga, fikiran dan uang anda! Misalnya, anda yang diatas nilai rerata, punya pacar dengan nilai nilai diatas rerata juga, kaya dlsb yang menyenangkan mata dan hati, dan sangat baik kepada anda, menuruti segala apa yang anda inginkan. Setelah 6 tahun berpacaran dan merasa sangat bahagia, tiba-tiba anda menyadari, bahwa jalan yang anda lalui berdua ternyata keliru! Jadi, 6 tahun itu anda mendapat kebahagiaan tidak nyatabenarnya, yang anda bayar juga, dan pada akhirnya anda sesali. Keliru dalam hal apa, ya apa saja….anda fikir sendiri saja ya………….

Kebahagiaan Yang Tidak Nyatabenarnya Berdurasi Pendek Yang Disesali.

Hari ini anda bertemu kawan, rasanya bahagia sekali. Pada akhir pertemuan, bisa saja anda menyesali pertemuan itu bukan? Bahkan, penyesalan yang menyita waktu yang panjang sekali.

 Kebahagiaan Yang Tidak Nyatabenarnya Dan Kebahagiaan Yang Nyatabenarnya, Keduanya Sama: Anda Harus Bayar Untuk Mendapatkannya!

 Setelah mengetahui tentang bagaimana jiwa secara Automatic mempuat peta kebahagiaan, pertanyaannya adalah:

Mengapa Ada Individu Yang Merasa Tidak Bahagia Dalam Kehidupannya?

Karena, memang pada dasarnyalah manusia tidak logis! Misalnya, ada individu yang Ingin bahagia, malah pindah ke puncak gunung yang sunyi, bikin gubuk, ingin tenang dan mau semedi atau bertapa, karena menurutnya, dan yang diyakininya, menurut apa yang ia baca dan dengar: kebahagiaan adanya dalam hati! Lha, memang di puncak gunung ada apa? Kalau di puncak gunung ada kebahagiaan, puncak gunung dimanapun adanya tentu sudah dipenuhi orang!. Mungkin maksud individu itu, kebahagiaan ada dalam hati, jadi dia mau cari yang gratis! Tengak-tengok di puncak gunung sendirian….

Nyatabenarnyalah Bahwa Tidak Ada Kebahagiaan Yang Gratis!

Mengapa ada statement yang menyatakan, bahwa kebahagiaan adanya di dalam hati? Saya katakan, itu tidak berdasar.  Mengapa mereka membuat statement itu? Karena mereka tidak mengetahui bahwa:

Kebahagiaan Itu Terukur!

Anda tahu ukurannya? Ukuran yang sederhana seperti ini: Andai Ada individu yang berwajah susah, kelihatan susah, cemberut, matanya bermusuhan, lalu ketika ditanya, apakah dia bahagia dengan kondisinya? Ia menjawab: Kebahagiaan adanya dalam hati. Saya bahagia! Walaupun kondisi saya seperti ini, saya bahagia. Orang kaya, sarjana, punya pasangan cantik, belum tentu bahagia bukan…… (kata dia!). Apa anda percaya kata dia, yang berwajah susah itu!? Tentu tidak bukan? Apalagi kalau anda mengetahui ada ilmu yang berbicara tentang:

Human Development Index

Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, berkembang atau terbelakang, dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Jadi, pendidikan, standar hidup, kualitas hidup, dapat dibandingkan dapat diukur, makanya terukur!. Dan tentunya, kualitas hidup berbanding lurus dengan kebahagiaan.

Saya berharap, ketika orang masih mencari dimana letak kebahagiaan, apa yang disebut bahagia, saling berdebat, saling bersitegang dengan self-defence-nya sendiri-sendiri, kita mulai menghitung dan mengukur kebahagiaan itu. Itu NyataBenarnya.

Selamat Berbahagia Di Hari-hari Bahagia Anda, Dahulu Anda Sudah Membayar Untuk Kebahagiaan Yang Anda Nikmati Sekarang….

Salam Giat Membayar! Yang Gratis…. Kualitasnya Jelek…… Hilal Achmar.

08 June 2012

Advertisements

3 thoughts on “45. KEBAHAGIAAN

    • Saya juga berbahagia mendengar anda berbahagia dan termotivasi oleh tulisan-tulisan saya. Karena, memang jarang, generasi yang sekarang, mau termotivasi oleh orang yang hidup pada satu generasi dengannya. Anda harus membuka mata, telinga dan hati anda, melihat tanpa ingin menidakkan, mendengar tanpa ingin membantah, meresapi di hati dengan tidak apriori. Begitulah awal saya menimba ilmu pengetahuan yang nyatabenarnya bersama Bapak. Kemudian, setelah saya mendengar, melihat dan memasukkannya dalam hati, barulah saya membahasnya. Sampai sekarang pun saya masih rajin mendengar dan melihat. Saya berharap, anda juga akan menyebar-luaskan pengetahuan yang nyatabenarnya ini kepada siapapun. Karena, satu kerugian bagi generasi kita, kalau kita tidak dapat membekali generasi yang akan datang dengan ilmu yang benar, agar generasi mendatang dapat lebih maju dan berkembang dari generasi kita. Salam Bahagia. Hilal Achmar.

  1. Untuk pembaca blog yang belum menjadi teman di fb saya, ini ada komentar tentang kebahagiaan yang saya copy paste dari fb saya, dari Mbak Inung Amin.

    Inung Amin :Kebahagiaan menurut saya adalah LA KHAUFUN ( tidak ada rasa khawatir) contohnya anda memiliki mobil 5 dan berlian segenggan tapi takut dicuri, anda tdk bhagia, kmudian tiap ruangan anda pasang CC TV tiap hari or scara berkala anda intip hsl cctv tsb dng rasa was2 n pengentau, tiap hari terbebani spt Itu, ini sungguh bukan kbahagiaan.

    Komentar dari sudut pandang Islam. Saya akan bercerita sedikit. Mbak Inung mungkin menyuruh saya agar menulis lebih banyak lagi, tentang apa kebahagiaan itu, agar saya tidak bias, dan agar pembaca saya mengerti benar, apa yang saya maksudkan. Mbak inung Amin adalah putri orang besar, ayah beliau adalah Bapak Amin Syahri, pernah menjadi ketua Muhammadiyah, dan ketua DPRD, tinggal di Yogyakarta. Kakeknya adalah H Siradj Bakrie, dimana saya ikut beliau selama kurang lebih 9 tahun, sejak SMA sampai lulus kuliah. Jadi, kepribadian saya sekarang, banyak terpengaruh oleh beliau, dan saya sangat bersyukur karenanya, semoga beliau mendapat tempat yang sangat baik di sisi Alah SWT.

    KHAWATIR
    La Khaufun artinya khawatir. Rasa khawatir ini, merata pada umat manusia, baik kaya, miskin, penguasa, rakyat, bahkan ada pada Rasul dan manusia biasa. Saya ambil satu contoh kekuatiran akan kemiskinan pada manusia biasa, dan janji Allah akan memberikan kekayaan.

    28. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. At Taubah 9: 28

    Jadi khawatir miskin itu boleh pada orang yang beriman, dan dari rasa khawatir menjadi miskin, Allah SWT mengetahuinya, kemudian Allah memberi kekayaan dari karunia-Nya pada ayat diatas tersebut. Jadi, kekayaan, adalah karunia bagi orang beriman dan cobaan bagi orang kafir (contoh Fir’aun dan sepupunya, Qorun). Yang jelas, rasa khawatir orang beriman pada ayat diatas, berujung kebahagiaan yang berdurasi panjang.

    Ada juga kabar: “Tambatkan dulu ontamu, baru bertawakkal kepada Allah”, Ini adalah salah satu bentuk rasa khawatir yang benar.

    Rasa khawatir para Rasul, berbeda dengan rasa khawatir manusia biasa. Mereka menghawatirkan umatnya dan tingkahlaku manusia yang hidup dimana Rasul itu diutus. Rasulullah SAW terkenal dengan sabdanya pada akhir hidup beliau: Ummati, Ummati, Ummati….. Juga Nabi Ya’qub:

    133. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. Thaahaa 20:91.

    SIFAT KAYA PARA NABI DAN SAHABAT.
    Sekarang ‘Pasar’ di dunia, dikuasai oleh orang yahudi. Demikian juga dahulu di Madinah, Ada kabar: Raulullah SAW bertanya kepada Ustman Ibn Affan, apakah dia bisa membuat pasar, seperti pasar yang dikuasai kaum yahudi. Ustman Ra, menjawab bisa. Maka majulah pasar dan perekonomian Madinah yang dikelola oleh umat Islam sampai sekarang. Nabi Sulaiman juga mempunyai sifat kaya dan juga kaya raya. Sifat Kaya beda dengan kaya harta. Sifat kaya menunjukkan sifat yang tidak bergantung kepada makhluk. Membuat perekonomian sendiri, yang tidak bergantung itu, yang dipimpin Rasulullah, adalah kebahagiaan yang berdurasi panjang.

    Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus membayar dengan waktu, tenaga, fikiran, dan dana. Orang yang bahagia, juga para Rasul pun dapat: khawatir, takut dan sedih, susah seperti perasaan kita juga, bedanya adalah, tingkat pemahaman mereka sangat tinggi. Tetapi, memang itulah yang diinginkan oleh para Rasul, agar tingkat pemahaman kita semakin tinggi, agar kita hidup berbahagia.

    Para pembaca yang budiman:
    1. Anda boleh hidup seperti Nabi Adam As, menguasai dunia, menjadi Khalifah (daripada bumi anda ditanami sawit oleh tetangga). Walaupun Nabi Adam As, memikirkan, bersedih dan khawatir terhadap anaknya Qabil.
    2. Anda boleh hidup seperti Nabi Yusuf As, menjadi birokrat, bendahara pada Kerajaan.
    3. Anda boleh berdagang seperti Nabi Muhammad SAW, yang kalau berdagang, membawa tidak kurang dari 40 unta bermuatan penuh barang dagangan, kira-kira setara 40 mobil box sekarang. Atau seperti Ustman Ibn Affan yang membuka pasar.
    4. Anda boleh hidup seperti Nabi Musa AS, dan saudaranya Nabi Harun AS, untuk memberi tahu pemerintahan Fir’aun yang zalim, kemudian membuat rakyatnya dan dirinya mendapatkan kebahagiaan berdurasi panjang, karena Fir’aun ditumbangkan dan ditenggelamkan.
    5. Anda boleh hidup seperti Nabi Sulaiman AS, menjadi Raja, mempunyai Istri Ratu Saba yang cantik dan kaya raya.

    Kebahagiaaan kecil, dengan pengorbanan kecil, pada waktu saya SMA, ditularkan kepada saya oleh Bapak H Siradj Bakrie, kakek dari Mbak Inung Amin. Dan pelajaran yang paling berkesan bagi saya adalah KEBEBASAN MIMILIH, yang beliau mengerti dan memahami benar hakikatnya.

    Demikianlah, semoga bermanfaat untuk saudara-saudara sekalian. Kesalahan,adalah kesalahan saya. Mohon dikoreksi.
    Salam Bahagia. Hilal Achmar.
    18 Juni 06.50

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s