XV. METASCIENCE PENDIDIKAN

Pendidikan yang saya jalani di sekolah/universitas adalah pendidikan science, karena saya selalu memilih bidang eksakta. Yang akan saya titik beratkan, adalah sistem pembelajaran yang efektif dan efisien untuk Global Science, baik itu science maupun metascience. Berikut, akan saya bahas satu demi satu.

1. Belajar Bersendirian Atau Berduaan.

Pada saat saya masih di SD, saya meminta Bapak saya untuk mengajari saya global science, ialah science & metascience, setiap jam 3.00 pagi sampai waktu subuh tiba. Dalam waktu lama, beliau membimbing saya dalam science dan metascience. Beliau ‘mengkloning’ ilmunya kepada diri saya. Waktu SMP, beliau menyediakan buku-bukunya untuk saya baca, dengan cara, meletakkannya di meja ruang tamu, atau meja makan. Pada waktu SMP, saya telah membaca ratusan buku, ratusan novel, dan mulai mengerti dasar-dasar metascience. Yang saya ingin katakan adalah, belajar bersendirian atau paling banyak berduaan, memberi kesempatan kepada pendidik/guru dalam mengkloning pengetahuannya kepada muridnya. Puluhan guru dan dosen saya, tidak pernah berhasil mengkloning banyak pengetahuannya kepada saya, sebanyak Bapak saya mengkloning pengetahuannya kepada saya. Anda pasti setuju. Bukankah Bapak saya menyediakan ratusan buku pilihannya untuk ditransfer dan mengkloningnya pada dada saya?

2. Bertanya Adalah Separuh Ilmu Pengetahuan.

Berkaitan dengan no 1. diatas, belajar bersendirian menyebabkan saya bertanya-tanya secara bebas lepas, tanpa takut ditertawakan, dan menghilangkan sifat hipokritis dalam diri saya. Kalau saya bertanya, dimana sebenarnya Tuhan berada? Dimana Tuhan berada itu sudah separuh pengetahuan, separuhnya lagi, saya sudah mengetahui adanya Tuhan. Itu maksudnya……..

3. Belajar Dengan Pendidik Yang Mengetahui Benar Kapasitas Kita.

Pada waktu kuliah dulu, kelas saya bisa dipenuhi oleh 100-150 orang, dengan satu dosen. Apakah dosen itu mengetahui kapasitas keilmuan masing-masing mahasiswanya? Saya kira pasti tidak, paling hanya mengetahui satu atau dua kapasitas mahasiswanya yang menonjol. Anda fikir ini efektif? Pasti tidak. Saya akan mengilustrasikan, bagaimana belajar berduaan, mencapai hasil yang efisien dan efektif. Pada waktu saya tingkat I atau II di UGM, saya tinggal di Sosrokusuman,  tepat di belakang Yogya Mall. Didepan rumah saya, ada hotel kecil, namanya Hotel Intan. Ada seorang pengayuh becak, namanya Tri, masih muda, sekitar 18 tahunan, sering mangkal di depan hotel itu menunggu penumpang. Pada saat dia menunggu, saya mendekatinya, dan mentriggernya untuk belajar bahasa inggris, saya katakan, dia nanti bisa menjadi guide. Kemudian, sambil menunggu, dia belajar bahasa inggris. Saya selalu mencarinya di depan hotel itu, untuk menyemangatinya. Kemudian dia menjadi guide. Tidak ada setahun, dia telah melanglang ke Paris, Perancis, diajak oleh seorang turis wanita. Dia diajak menikah disana…………………… ……………….Saya mengetahui benar kapasitas yang dipunyai Tri….………………

Selamat Mendidik. Salam. Hilal Achmar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s